1.3.11

24, 25, and 26....

... adalah batas usia youth di sebagian besar wilayah Eropa. Untuk selanjutnya, istilah youth akan diganti dengan kawula muda.

Itulah salah satu alasan, jika ingin berkuliah di Eropa dan berjalan-jalan adalah salah satu tujuan sampingan utama (tujuan sampingan yang diutamakan), bersegeralah! Hal ini juga berlaku jika bepergian ke Eropa hanya untuk berjalan-jalan. Alasannya jelas, perusahaan-perusahaan transportasi (umumnya transportasi darat) dan tempat wisata umumnya memberikan harga yang berbeda, lebih murah tentunya, untuk mereka yang masuk kategori ini. Lebih lanjut, jika memang terdaftar sebagai mahasiswa, ada kemungkinan mendapat diskon lebih (atau, mereka yang mendapat diskon hanya mahasiswa yang kawula muda, atau kawula muda yang mahasiswa). Sayangnya hal ini tidak berlaku untuk restoran-restoran atau tempat makan.

Tidak ada penjelasan mengenai aturan resmi, tiap negara, bahkan tiap tempat bisa memiliki aturan yang berbeda. Mungkin saja untuk masuk bangunan A di kota X, ada diskon untuk mereka yang berusia dibawah 25 tahun, tapi bangunan B di sebelahnya memberi diskon untuk mereka yang berusia dibawah 26 tahun. Atau bangunan C memberi diskon untuk mereka yang berusia dibawah 25 tahun dan mahasiswa, atau mungkin saja bangunan D memberi diskon untuk mereka yang mahasiswa, tidak peduli usianya, atau beberapa aturan yang tidak tercakup disini, seperti, hanya mahasiswa yang berkuliah di Uni-Eropa saja yang mendapat diskon, dan sebagainya.

Saya sendiri cukup beruntung dalam kasus ini. Sewaktu di Portugal, harga tiket transportasi (bulanan) berbeda untuk mereka yang berusia dibawah 24 tahun DAN berstatus mahasiswa di Portugal (diskon 50%). Sedangkan sekarang di Italia, harga tiket transportasi (tahunan) berbeda untuk mereka yang berusia dibawah 26 tahun DAN berstatus mahasiswa di Italia (harga khusus, 100 euro per tahun untuk seluruh alat transportasi murah dalam satu regional). Andai kasus perpindahan saya dibalik (dari Italia ke Portugal), saya tidak akan mendapatkan kemudahan itu di Portugal tentunya.

Demikian dan terima kasih.

24.2.11

Not so important posting...

Perjalanan yang kutempuh selama 5 hari ke Lisbon kemarin telah memberikan cukup banyak pelajaran.

Bukan hanya bahwa tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama terhadap suatu masalah apalagi untuk memahami pandangan yang berbeda tersebut, bukan pula sekadar mengetahui bahwa hidup saya yang hampir satu tahun di wilayah ibukota Portugal tersebut ternyata masih belum cukup untuk mengetahui, apalagi memahami, sejarah kota itu. Bukan pula menyadari bahwa perjalanan Bolzano-Milano membutuhkan waktu lebih lama daripada perjalanan Milano-Lisboa.

Lebih dari itu semua, menyadari arti penting seorang sahabat dan lebih kepada penjagaan diri, karena sebuah kesalahan "kecil" di masa lalu dapat mengakibatkan luka yang dapat menjadi penyesalan di masa yang akan datang.

Untukmu, sahabatku, terima kasih untuk maafmu dan pelajaran hidup yang telah kau berikan. Lupakan masa itu dan tataplah masa depan yang, Insya Allah, lebih cerah.

16.12.10

"Clean" Programming Check-List

Alhamdulillah, masih bisa mempertahankan (at least) one post per month...

Kali ini, seperti yang tertulis di judul, saya akan sedikit membahas mengenai checklist memprogram, atau dalam bahasa Bu Inge-nya, "Sudah seberapa 'bersih'-kah kamu memprogram?" Saya "berani" membawa topik "kebersihan" program karena, meski ada tulisan tentang Why can't programmers program, saya cukup yakin bahwa pembaca blog ini terdiri "hanya" dari dua tipe saja:
  1. Teman/saudara/kerabat/handai Taulan (TSKHT) saya
    • TSKHT saya yang pernah berurusan dengan dunia pemrograman. Anda pasti bisa memprogram!
    • TSKHT saya yang memang tidak berurusan dengan dunia pemrograman (kayanya sebentar lagi bakal nutup tab ini deh :( )
  2. Orang "lewat"... Jika Anda masuk kategori ini, saya yakin Anda bisa memprogram... Soalnya kalo nggak, gimana caranya bisa nyasar ke blog ini... Wong Page Rank-nya aja cuma 3/10...

Dengan asumsi demikian, Anda pasti bisa memprogram atau tidak pernah berurusan dengan dunia pemrograman... Oleh karena itu, tidak ada salahnya memeriksa kebersihan kode seseorang yang memprogram (!= programmer). Berikut ini daftar yang "dikeluarkan" oleh Bu Inge dalam memprogram: (dalam kasus ini, saya menggunakan Java)

  1. Tidak pernah menggunakan break ataupun continue, so instead of doing something like this:
    int ans = -999;
    for(int i = 0; i < strArr.length; i++){
        if(strArr[i].equals("elvi")){
            ans = i;
            break;
        }
    }
    akan jauh lebih baik jika memperbaikinya menjadi begini:
    int ans = -999;
    {
        boolean found = false;
        for(int i = 0; i < strArr.length && !found; i++){
            if(strArr[i].equals("elvi")){
                ans = i;
                found = true;
            }
        }
    }
    Ini memang "ujian" paling berat, apalagi dari segi panjangnya kode, kode kedua lebih panjang
  2. Tidak memberi return lebih dari satu di satu fungsi, so instead of doing something like this:
    if(i == 2)
        return i;
    return i+1;
    akan jauh lebih baik jika memperbaikinya menjadi begini:
    int ans;
    if(i == 2)
        ans = i;
    else
        ans = i+1;
    return ans;
    
    atau untuk memendekkan kodenya, menjadi seperti ini:
    int ans = i;
    if(i != 2)
        ans++;
    return ans;
    
  3. Tidak memberi return di prosedur (void), so instead of doing something like this:
    public void voidA(int x){
        if(x == 2) return;
        else {
            // do something
        }
    }
    akan jauh lebih baik jika memperbaikinya menjadi begini:
    public void voidA(int x){
        if(x != 2) {
            // do something
        }
    }
  4. Tidak melakukan kesalahan-kesalahan "konyol" memprogram, so instead of doing something like this:
    int i = 0;
    boolean found = false;
    while(!found){
        // do something
        if(/* something happened*/) found = true;
        i++;
    }
    i--;
    or this:
    int i = someFunction();
    if(i == 1){
        // doing something that doesn't change the value of i
    }
    if(i == 2){
        // doing something
    }
    akan jauh lebih baik jika bagaimana? Saya serahkan kepada pembaca untuk menjawabnya...
  5. Tidak cetak-cetek pulpen :D
    Karena cetak-cetek bulpen adalah awal dari kegilaan dunia... Hehehe...
Mungkin banyak, termasuk saya, terutama yang sudah masuk di dunia "nyata" mempertanyakan pentingnya "kebersihan" dari program, tapi saya sendiri sampai saat ini melihat hal diatas sebagai keindahan pemrograman... Meski sama sekali tidak menutup kemungkinan saya melakukan satu (atau lebih) kesalahan diatas, terutama saat kepepet dikejar deadline(eniwei, istilah yang bener untuk batas akhir pengumpulan (tugas, dkk) adalah deadline bukan dateline)


Terakhir... Pesan yang selalu disampaikan oleh Bu Inge kepada anak didiknya "Anakku, jadilah orang waras di dunia yang sudah gila ini"

27.11.10

Dream on dream on...

Keep on dreaming, friends...

Bermimpi memang tidak ada salahnya, masih berkaitan dengan KTT (Khayalan Tingkat Tinggi) (baca juga: Perusahaan Penerima Pekerja dan kehancuran dunia IT), kali ini saya memiliki ide lain, terutama berguna untuk orang dengan mobilitas tinggi dan lebih terutama lagi, untuk negara dengan kualitas internet pas-pasan (saya tidak akan menyebutkan contohnya) :D

Ide yang saya mimpikan ada 2, yang pertama adalah... TRANSFER BANDWIDTH...

Jadi, meski rekan-rekan sudah bisa membayangkan, saya akan menjelaskan sedikit.. Pada saat dua orang, yang satu kaya bandwidth (A) dan yang lainnya miskin bandwidth (B), sedang online bersama... Nah, si B bisa meminta bandwidth beberapa puluh kilobyte(atau ratus kilobyte, atau beberapa megabyte, atau sesukanya lah, tergantung keinginan dan kesepakatan antara A dan B) kepada si A, dan kemudian dia bisa memanfaatkannya... Andai teknologi ini benar-benar terlaksana, hmmm, mungkin bisa dijadiin lahan bisnis juga tuh, seperti "sedia bandwidth sampai 5 Megabit per second hari ini! langganan bandwidth hanya 100 ribu per bulan", sepertinya seru sekali yaaaa... Ihihihi...

Permasalahannya adalah, si penerima (B) masih memerlukan bandwidth (sedikit) untuk menerima transfer-an bandwidth dari si pengirim (A). Oleh karena itu, diciptakanlah ide kedua!! (kaya ide itu apa aja, harus diciptakan segala) Ide kedua dari saya ini adalah, BANDWIDTH STORE!!

Nah yang ini keliatannya jauh jauh lebih asik lagi... Jadi kita bisa menyimpan bandwidth ke dalam suatu drive (hard drive, flash drive, atau mungkin perlu dibuat drive khusus untuk penyimpanan bandwidth). Bahkan di wilayah dengan bandwidth pas-pasan pun, teknologi ini akan sangat membantu. Bayangkan saat kita tidur, kita menyimpan semua bandwidth yang bisa kita peroleh ke dalam drive, kemudian saat kita bangun, tiba-tiba kita mendapati drive kita sudah berisikan bandwidth sebesar 5 GB download dan 1 GB upload... Coba bayangkan jika ini terjadi saat kita mau pulang kampung, yang tidak ada koneksi internet... Kita tetap bisa berselancar di kampung halaman! Jika ide ini benar-benar bisa terealisasikan, sungguh kasian ISP-ISP yang bertebaran di luar sana, sepertinya gak banyak yang masih digunakan di dunia ini... Hwehehehe...

Andai dua ide ini terwujud, nikmatnya hidup ini... Wawawawawa

4.10.10

Caparica vs Bolzano

Walau gabaik membanding-bandingkan, tapi saya tetep pengen bandingin aja, gak untuk menyesal atau terlalu bersenang diri kedepannya, hanya perbandingan biasa saja... Sebelumnya untuk yang tidak tahu dimana itu Caparica dan Bolzano, Caparica itu adalah wilayah suburban Lisbon, jaraknya hanya sekitar 7 km dari ibukota Portugal tersebut, sedangkan Bolzano adalah sebuah kota bilingual di utara Italia, kota besar terdekat dengannya mungkin Milan, yang berada 200 km di tenggara dari Bolzano.

Iklim
Dari segi iklim, Caparica jelas jauh lebih "menggoda" untuk ditinggali... Alasan tidak lain adalah stabilitas (halah) cuaca di sepanjang tahun... Suhu disana (sepanjang satu tahun saya berada) berkisar antara 6-32 derajat celcius, sedangkan di Bolzano sepertinya panasnya mencapai 37-38 dan dinginnya sampai bersalju (yang berarti di bawah 0 derajat celcius)... Sebagai perbandingan, tahun lalu di Caparica suhu udara sampai pertengahan Oktober masih diatas 20 derajat celcius, sedangkan di Bolzano, saat ini (awal Oktober) suhu berkisar 10-17 derajat celcius...

Biaya hidup
Emang gak baik membandingkan biaya hidup (kalo dirupiahin dan dibandingin dengan biaya di Indonesia, atau Bandung pada khususnya). Akan tetapi perbandingan biaya hidup di Bolzano dan Caparica, yang notabene keduanya sama-sama memakai mata uang Euro, pun ternyata cukup terasa... Selain harga tiket bus di Bolzano yang lebih murah, harga barang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya di Bolzano berkisar antara 10-80% lebih mahal daripada harga barang yang sama di Caparica. Menurut salah seorang Italia, Bolzano memang kota termahal di Italia, bahkan diatas Roma ataupun Milan biaya hidupnya...

Komunitas Indonesia, komunitas muslim, makanan halal
Untuk tiga hal ini... Bolzano unggul mutlak... Perlu diperhatikan bahwa saya HANYA memperhitungkan keadaan di Caparica vs Bolzano saja, tidak meliputi wilayah sekitarnya seperti Lisbon... Bahkan jika dibandingkan dengan Lisbon, sepertinya komunitas muslim dan makanan halal di Bolzano masih lebih unggul, terutama dalam masalah makanan halal.

Kampus
Tujuan utama pergi "jalan-jalan" ke Eropa kan kuliah, jadi hal ini harus jadi perhatian juga. Dari segi ranking dunia, Universidade Nova de Lisboa (UNL) yang berada di sekitar 500 dunia jelas jauh di atas Freie Universitaet Bozen/Libera Universita di Bolzano/Free University of Bozen-Bolzano (FUB) yang bahkan tidak masuk 1000 besar dunia, tapi buat saya itu bukan masalah utama dalam kehidupan :D

1. Bahasa: FUB yang merupakan kampus trilingual (Italiano, Deutsch, English) jelas jauh lebih memberikan kehidupan yang nyaman, terutama dalam hal pelayanan, kepada 100% mahasiswanya, mulai dari rektor kampus sampai staf sekretaris hampir semuanya bisa berbicara ketiga bahasa tersebut...
2. Fasilitas: Fasilitas yang paling terlihat luar biasa dari FUB adalah perpustakaannya, yang sangat besar, dibandingkan dengan UNL, jelas UNL kalah telak. Beberapa keunggulan UNL adalah adanya kafe-kafe kecil di hampir setiap bangunannya. Dari segi kantin, lab, dan lain-lain, keduanya bisa dikatakan seimbang lah.
3. Infrastruktur: Ini juga satu lagi keunggulan mutlak dari FUB. Student card disini jelas benar-benar bisa dipakai untuk apapun. Student card ini bisa diisi uang, yang kemudian bisa kita gunakan untuk makan di kantin atau ke unibar, masuk ke kampus, masuk ke ruangan-ruangan tertentu, pinjam buku secara otomatis (gak perlu berkomunikasi dengan pustakawan), melakukan aktivitas seperti nge-print, nge-scan, fotokopi... Semuanya bisa (dan hanya bisa) menggunakan student card ini. Bahkan vending machine saja menggunakan student card, benar-benar dimanjakan, tapi hati-hati student card hilang == siksaan hidup selama beberapa hari (dan denda).
4. Jam buka: Jika melihat jam buka perpustakaan saja, FUB jelas menang karena senin-jumat buka dari jam 8-24 dan hari sabtu buka dari jam 9-17 (serta bisa ada akses 24/7 terutama bagi mahasiswa yang mengejar pengerjaan tesisnya, dengan izin terlebih dahulu), UNL hanya buka dari 9-19, itu pun hanya hari senin-jumat saja. Tapi jika melihat jam buka kampusnya, FUB kalah karena hari minggu umumnya tutup (nasib kampus yang hanya berupa bangunan doang, bukan kompleks yang luas), sedangkan UNL selalu buka.

Area wisata
Kalo soal yang ini... susah dikatakan... Jika perbandingannya hanya kota Caparica vs kota Bolzano... Bolzano unggul karena banyak pegunungan yang bisa dikunjungi (dan dipanjat). Tetapi meluas sedikit, Caparica unggul karena dekat dengan Lisbon yang penuh dengan bangunan-bangunan bersejarah yang eksotis (halah). Tetapi meluas dikit lagi (30 menit - 3 jam perjalanan darat), pertandingan mungkin menjadi lebih seimbang... Caparica mendapat "dukungan" dari, bisa dibilang, semua wilayah Portugal (maklum Portugal negara kecil), sedangkan Bolzano meliputi kota seperti Milan yang berada di negeri sendiri, ataupun "sokongan" negara sebelah seperti Innsbruck (Austria) dan Muenchen (Jerman).

Kemungkinan berkunjung ke tempat kakak
Hahahaha... Ini jelas menjadi topik yang sangat PENTING! Okey, dalam hal ini... Kalo cuma dilihat dari segi waktu, mungkin Caparica sedikit lebih unggul... Mengingat hanya butuh 45 menit ke bandara dan 3 jam menuju bandara Koeln/Bonn serta 30 menit ke tempat kakak saya yang pertama... Kasusnya tidak akan jauh berbeda untuk menuju Rotterdam (sepertinya). Sedangkan dari Bolzano ada 2 kemungkinan, menggunakan pesawat berarti perlu ke Milan dulu yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam, kemudian pesawat ke Koeln/Bonn (jika ada, mungkin sekitar 1 jam), dan seterusnya. Kemungkinan lainnya adalah menggunakan kereta yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam.

Akan tetapi, jika memperhitungkan harga yang yang harus dibayar, Bolzano gantian memimpin karena biaya satu perjalanan (dengan kereta) "hanya" sekitar 40-60 euro, sedangkan dari Caparica membutuhkan setidaknya 80-90 euro...

Okey, sekian dulu perbandingan dua kota tempat saya menuntut ilmu masing-masing 1 tahun (amiiin, semoga tesis cepat kelar), semoga dimanapun saya berada, saya bisa menikmati setiap detik yang saya lewati... Amiiiiiiiiiiin...