14.10.25

Just Wanna Share it Here

Ini sebuah cerita tentang bagaimana "keberuntungan" saya mengundurkan diri dari startup ikan*, salah satu startup yang sampai sekitar setahunan lalu adalah salah satu startup paling menjanjikan, dan kelihatannya dalam waktu tidak lama akan IPO.

As a side note, ini cerita yang "berat", dan saya menuliskannya hanya karena saya tidak ingin mendiamkannya di dalam kepala. 

Saya tidak akan bercerita dari awal, tapi saya akan langsung lanjut ke awal-awal rencana saya mengundurkan diri, yaitu sekitar akhir 2023.

Jadi sekitar bulan November atau awal Desember 2023, kami para VP Product diberitahu bahwa akan ada restrukturisasi di tim product. Dalam hati saya, "Dang, restrukturisasi ketiga dalam kurang dari 1.5 tahun saya berkarir di perusahaan." Awalnya saya masih berusaha berpikir positif terhadap informasi awal tersebut, tapi sampai akhirnya saya mengetahui rencana detil perubahannya, saya tidak lagi bisa berpikir positif.

Ternyata tim saya mengalami penyusutan yang luar biasa yang menurut saya terlalu kecil untuk ukuran seorang VP, dan yang lebih parahnya saya difitnah dan diadu domba, siapa pelakunya nggak penting untuk saya informasikan di sini, tapi saya yakin itu benar (karena saya sudah memiliki buktinya). Barulah di detik ini mulai terbersit pemikiran untuk akhirnya mengundurkan diri saja. Ada banyak sekali pertentangan, dua hal yang paling mengganjal saat itu adalah:

  1. Akhir 2023 dan awal 2024 itu sudah masuk tech winter, tidak mudah mendapatkan pekerjaan baru lagi, apakah dengan posisi yang cukup senior seperti yang saya tempati kala itu. Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa saya bahkan belum 2 tahun bekerja di perusahaan tersebut, pasti sedikit banyak terpikir bahwa ini akan jadi label buruk karena terkesan seperti kutu loncat saja (sebelumnya masa kerja saya selalu 2 tahun atau kurang selain di Bukalapak).
  2. Finansial. Bukan saya memiliki masalah finansial, hanya sebagai seorang pekerja yang juga memiliki alasan finansial untuk bekerja, salah satu alasan saya enggan untuk mengundurkan diri adalah, karena sebagian besar saham saya seharusnya vested (yang artinya menjadi milik saya sepenuhnya) di pertengahan bulan Januari 2024.
Setelah pergolakan batin, akhirnya saya tetap memutuskan mengundurkan diri di sekitar pertengahan / akhir Desember, dengan asumsi jika saya mengajukannya menggunakan 2-month notice, maka saham saya tetap bisa vested. Well, it's not that easy...

Berhubung, alhamdulillah, saya diberi rezeki untuk umroh di akhir Desember, beberapa pihak yang terlibat dalam pengunduran diri saya pun akhirnya menghubungi saya di awal Januari, salah satu respon yang membuat saya geram adalah kurang lebih seperti ini, "Kalo Mas Zakka resign, maka sahamnya akan langsung hangus saat ini juga." Tentunya saya tidak terima karena tidak ada perjanjian di manapun di perjanjian kerja yang memperbolehkan hal tersebut, tapi orang ini bilang bahwa tidak adil buat VP yang lain karena saham saya tetap diberikan meskipun sudah tidak bekerja. Argumennya saya lawan juga tentunya, karena menurut saya itu wajar, toh saya mendapatkan saham dari usaha saya selama 1.5 tahunan tersebut, dan toh tetap sebagian saham saya hangus juga karena saya resign.

Baru beberapa minggu kemudian saya tahu bahwa entah kenapa VP diberikan saham dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada yang saya peroleh, dugaan saya ini salah satu penyebab "keinginan" menghanguskan saham saya. Oh ya, nilai saham saya yang seharusnya vested itu kurang lebih setara 16 kali gaji bulanan saya!

Ketidakberterimaan saya membuat saya menyewa seorang legal advisor (bukan lawyer ya) untuk meminta nasihatnya mengenai masalah tersebut. Setelah membaca keseluruhan perjanjiannya, termasuk perjanjian pemberian saham, dia bilang secara aturan memang mereka tidak bisa begitu saja mengotak-atik saham yang seharusnya saya terima. Kami berdua berdiskusi lumayan panjang dan memiliki satu keputusan: Tidak apa-apa saham saya dianggap hangus, tapi saya harus diberikan kompensasi setara saham yang hangus tersebut.

Setelah itu, saya kembali berdiskusi dengan beberapa pihak dalam perusahaan yang terlibat dalam pengunduran diri saya, dan walau akhirnya tetap dapat kompensasi, tetapi setelah nego-nego panjang, saya "hanya" mendapatkan sekitar 55% dari nilai saham yang dihanguskan tersebut. Hanya saja saya tidak mau lama-lama terlibat dalam perseteruan kurang penting. Lebih lagi saya berpikir, "Ya sudah lah, toh saya bisa dapet 55% dalam bentuk cash langsung, dibandingkan dengan 100% tapi tidak tahu kapan bisa dicairkannya." Walau memang si 100%, waktu itu, sangat berpotensi tumbuh menjadi lebih besar lagi. Masih rada dongkol, tapi ya sudah saya ikhlaskan keputusan tersebut.

Barulah pada bulan Desember, muncul keramaian ini. Satu hal yang saya yakini (dari obrolan dari beberapa rekan kerja di sana), nilai saham perusahaan hampir pasti mendekati angka nol. Kalo dipikir-pikir, ternyata 55% JAUH lebih baik daripada nol ya. I won't say I dodged the bullet, saya cuma bilang ternyata rezeki saya dari kejadian tersebut bahkan jauh lebih baik daripada rekan sesama VP di perusahaan.

-----

Lastly, sebetulnya di bulan April 2024 saya sudah mendapatkan 2 tawaran pekerjaan (satu startup dan satu lagi BUMN), akan tetapi saya akhirnya memutuskan menolak keduanya karena akhirnya saya memilih menjalani hidup sebagai independent consultant yg, plusnya, bayaran per jam-nya JAUH lebih besar daripada bekerja sebagai karyawan tetapi, minusnya, tidak setiap hari saya bekerja (yg setelah dipikir-pikir, ini bisa jadi nilai plus juga).

*startup ikan = startup yg unfortunately CEO-nya saat ini sedang dalam proses penyidikan karena suatu kasus, dan bukan yang ketahuan sedang berlari di Qatar karena Strava-nya bisa dilihat orang lain.

25.7.25

Cerita "seru" di bandara Changi

Been a very very long time not writing here. Supaya bisa melatih sedikit kemampuan menulis, saya coba ceritakan pengalaman saya baru-baru ini di bandara Changi, Singapura. Pengalaman yang unik yang sepertinya bahkan belum pernah dialami oleh para petugas yang sempat terlibat kasus ini.

Tulisan ini akan agak panjang, karena saya coba buat secara runut, tapi saya selipkan beberapa opini atau fakta tambahan yang terkait dengan kondisi yang saya alami. Bagi yang tidak punya waktu luang banyak, silakan baca TL;DR di bawah ini saja.

TL;DR

Saya hampir saja harus mengorbankan beberapa oleh-oleh yang saya beli dari Singapura, karena oleh-oleh itu berupa liquid (tepatnya semi-liquid) dan saya lupa untuk memasukkan barang-barang tersebut sebagai bagian dari checked-in baggage, yang mengakibatkan barang-barang tersebut hampir pasti harus dibuang saat melewati security check, karena berukuran lebih dari 100ml.

Tentunya tidak sesederhana itu, tapi untuk tahu cerita detilnya, kudu baca cerita panjangnya di bawah ini.

Long Story


Cerita Awal

Jadi kebetulan hari Selasa 22 Juli - Kamis 24 Juli kemarin saya main-main ke Singapura. Tujuannya untuk menonton pertandingan Arsenal vs AC Milan secara langsung. Kisah bagian itunya tidak penting. Setelah dua hari berjalan-jalan, kulineran, belanja-belanja, sempat bersilaturahmi dengan sepupu dan teman IMO di Singapura, dan pastinya menonton pertandingan tersebut, akhirnya pada hari Kamis pagi, saya dan teman saya (Destya), berencana pulang ke Indonesia. Dan disinilah keseruannya akan dimulai, tepatnya setelah sampai di bandara.

Jadwal penerbangan kami adalah 14.45 dari terminal 4, dan bahkan kami sudah memiliki electronic boarding pass jadi tidak perlu check-in lagi, meski tetap harus melakukan drop baggage untuk koper yg kami bawa. Kami berpikir untuk melihat-lihat dulu Jewel yang sudah sangat tersohor dengan Rain Vortex-nya, sehingga kami memutuskan untuk berangkat agak awal, dan memang kami berhasil sampai di Jewel sekitar jam 11.10. Setelah dari hotel menaiki MRT, kemudian dilanjutkan dengan menaiki bus sampai terminal 1 Changi, karena Jewel memang terletak bersebelahan dengan terminal tersebut.

Awal Mula Masalah

Setelah mengelilingi Jewel yg ternyata hanya memakan tidak lebih dari 20 menit, kami memutuskan untuk segera ke terminal 4. Bertanyalah kami kepada petugas (1), di mana letak menaiki shuttle bus yang menghubungkan terminal 1 dengan terminal 4, kata petugasnya itu bisa dilakukan di dalam, di dekat pintu C21. Berjalanlah kami ke sana, melakukan scan paspor untuk kemudian berjalan ke area shuttle bus tersebut.

Di tempat duduk untuk menunggu shuttle bus itulah, saya merasa ada yang salah, tapi kami keburu dipanggil untuk menaiki bis yang akan membawa kami ke T4.

Menaiki Shuttle Bus Menuju T4

Saya sangat tidak tenang karena teringat bahwa seharusnya check-in dan baggage drop dilakukan SEBELUM kontrol imigrasi, dan kami belum sempat melakukan baggage drop karena memang tidak mungkin melakukan itu di terminal yang berbeda, yg ternyata tidak sepenuhnya benar, karena ternyata di Jewel ada fasilitas untuk melakukan check-in untuk maskapai yang berpartisipasi, sampai dengan 3 jam sebelum keberangkatan.

Saya sampaikan lah kekhawatiran tersebut ke Destya, rupanya dia cukup tenang karena memang tidak membawa liquid yang lebih dari 100ml sama sekali.

Kekhawatiran Menjadi Nyata

Apa yang saya khawatirkan benar! Sesampainya kami ke terminal 4, kelanjutan yang bisa kami lakukan hanya 3, yaitu:
  1. Melewati pengecekan security, di tahapan ini biasanya barang-barang cair dengan ukuran > 100ml, termasuk beberapa barang yang saya baru beli di Singapura, akan diambil dan dibuang, and I knew that. Ini jalur yang paling umum dilakukan orang yang menggunakan bus yang kami naiki
  2. Melewati imigrasi kedatangan menuju Singapura. Ini jalur yang dilakukan oleh penumpang baru mendarat dan ingin memasuki negara Singapura dari T4. Bukan jalur yang umum dipakai penumpang shuttle bus tersebut, walau mungkin saja ada seseorang yang mendarat di T2, misalnya, kemudian ingin memasuki Singapura dari T4, untuk alasan apapun.
  3. Mengantri shuttle bus kembali untuk ke T1, T2, atau T3, tapi tidak ada gunanya karena toh saya tetap akan berada di airside* dari bandara Changi ini.
Untuk ilustrasi, saya coba jelaskan sedikit tentang airside dan landside dari bandara Changi (tidak menggambarkan peta Changi yang sebenarnya, tentu saja).

Pembagian Airside dan Landside di Bandara Changi

Setiap bandara biasanya memiliki bagian landside (LS) dan airside (AS). Pada gambar tersebut, LS adalah bagian berwarna hijau, sedangkan AS adalah bagian berwarna biru. Secara umum, pemisah antara LS dan AS adalah pengecekan imigrasi atau pengecekan security (tergantung yang mana terlebih dahulu di bandara tersebut). Untuk kasus bandara Changi, batas LS dan AS adalah pengecekan imigrasi. LS adalah bagian publik, dapat diakses siapapun termasuk yang tidak memiliki boarding pass, sedangkan AS adalah bagian yang khusus untuk penumpang dengan boarding pass. Biasanya perpindahan penumpang dari LS ke AS terjadi saat kita mau bepergian, dan perpindahan penumpang dari AS ke LS terjadi saat kita sampai di tujuan.

Nah, pada kasus (1) di atas, kami sedang berada di area LS T1, kemudian kami melewati imigrasi di T1 sehingga masuk ke AS T1, setelah itu kami naik shuttle bus yang hanya memindahkan kami dari AS T1 ke AS T4. Masalahnya, untuk melakukan baggage drop, saya harus menuju ke ke LS T4 (lokasi check-in maskapai), yang tidak mungkin saya lakukan karena untuk bisa berpindah dari AS ke LS, saya harus berada pada kondisi datang ke Changi di hari itu.

Bantuan Staf Changi Airport

Di sinilah saya bingung. Destya langsung memilih untuk mengambil opsi pertama, walau sebenarnya dia pun membayar lebih untuk membeli jatah checked-in baggage. Saya belum mau menyerah, berhubung saat sampai di AS T4 itu sekitar jam 12.00, kami masih punya waktu sekitar 2 jam sampai waktu boarding. Dua jam ini seharusnya jadi waktu keliling-keliling duty free, belanja, makan siang, dan solat, tapi saya pikir "Nothing to lose deh, kalopun barang-barang ini nggak bisa dibawa ke Indonesia, yang penting usaha dulu. Separah-parahnya barangnya terpaksa diambil saat pengecekan security dan harus dibuang."

Percobaan pertama, saya datangi petugas imigrasi yg "nongkrong" di dekat auto-gate. Saya ceritakanlah kasus yang saya alami, saya sampaikan lah kondisinya.
"So, I came from the city to the terminal 1, because I wanted to see Jewel. However I can't checkin my baggage because my flight is here in T4 instead of T1. After that, I needed to go here because my flight will be from here. Then, I asked some officer in T1, where can I get the shuttle bus to T4, he answered that I could take it inside, near gate C21. I just realized when I took the shuttle bus that I already inside the passenger-only area, and I haven't checked-in my baggage, and now I can't go to the checkin area. I also don't want to go thru the security area because they will throw some of my items here, since I have liquids in my suitcase. Do you have any solution for my situation?"

Redaksinya nggak persis gitu, dan memang si petugas harus klarifikasi beberapa poin karena mungkin bahasa Inggris saya yang kurang jelas atau pas-pasan. Haha. Dia pun bingung karena untuk bisa melewati imigrasi, saya harus sudah punya kartu kedatangan (digital), tapi saya nggak bisa punya itu karena saya tidak mendarat di Singapura hari itu. Huft.

Karena sepertinya buntu, dia pun membawa saya ke petugas informasi di area tersebut. Saya ceritakan ulang kondisi di atas. Seperti ada harapan, karena dia beberapa kali tektokan dengan petugas lain (yg sepertinya ada di sisi LS) via telepon dan Whatsapp, dan saya menunggu cukup lama, sampai sekitar jam 1 siang. Sampai akhirnya dia bilang "You can go through the immigration gate" yang saya jawab "But I don't have the arrival card," kemudian dia bilang "You can fill it with your previous flight when you came here, just use today as the date of the arrival." Agak bahagia, setelah mengucapkan terima kasih, langsung lah saya coba isi si arrival card, kemudian segera menuju pintu tersebut.

Pintu pertama: Scan paspor dan pengecekan arrival card, lolos. Lewatlah saya ke pintu kedua.
Pintu kedua: Gagal! Tulisan di layarnya menunjukkan bahwa saya harus menunggu officer untuk menjemput dan memproses lebih lanjut. Huft.

Tampilan Dua Pintu Imigrasi, src: https://www.todayonline.com/singapore/95percent-arrivals-changi-automated-lanes-early-2024-ica-2157826

Kali ini, saya dibawa ke petugas imigrasi yang kelihatannya punya posisi lebih tinggi (manager?), saya ceritakan ulang semuanya dan saya sampaikan tambahkan informasi kepadanya bahwa penerbangan saya adalah pada pukul 2.45pm (sekitar 1 jam 30 menit lagi), dan seharusnya saya boarding pada pukul 2.05pm (tinggal 50 menit lagi). Tidak lupa saya bilang bahwa "If it's not possible, I am willing to throw these things away to be able to past the security check, rather than not able to take the flight."


Finally, Berhasil Lewat!

Si manager, setelah mengumpulkan data saya (nomor paspor, jadwal penerbangan, dll) meminta saya duduk (di area yang diisi orang-orang "bermasalah" yang tidak bisa masuk ke Singapura, haha). Setelah call sana sini, sekitar 10 menit kemudian dia bilang mendatangi saya dan bilang: "An Air Asia staff will accompany you exiting this area to the checkin desk. After that you can entering the secure zone back." Mendengar itu saya sangat hepi dan segera mengabarkan kondisi terkini ke Destya, sambil bertanya lokasi beberapa store di dalam T4 yang memang mau saya datangi, salah satunya tentu saja Irvin's.

Sekitar 5 menit kemudian seorang staf Air Asia datang, setelah itu saya harus melakukan clearance dengan mengambil foto dan sidik jari lagi untuk masuk ke Singapura. Ditemani si staf Air Asia menuju ke meja check-in, kemudian berjalan cepat untuk kembali melewati area imigrasi Singapura, saya ingat sekali saya berhasil melewati area imigrasi pukul 1.30pm, selesai berbelanja semua barang yang saya mau di duty-free pada pukul 1.45pm, dan selesai makan laksa halal yang cukup enak pada pukul 2.05pm (yang seharusnya jadi waktu boarding saya).

Selesai makan, saya lihat papan pengumuman, penerbangan saya diundur menjadi pukul 3.00pm (mundur 15 menit dari seharusnya). Karena ada extra time, akhirnya saya memutuskan untuk menjamak sholat dulu di area yang disediakan untuk beribadah. Lastly, saya berhasil mengisi botol air dan sampai di pintu keberangkatan penerbangan saya sekitar pukul 2.30pm. Proses boarding berjalan lancar dan saya sudah duduk di kursi pesawat saya sekitar pukul 2.50pm.

Apa Saja yang Salah

Sebagai post-mortem dari kejadian tersebut, mari kita coba lihat hal-hal yang mungkin bisa dilakukan sehingga kejadian di atas tidak terjadi:
  • Cari tahu lebih jauh. Seandainya saya tahu bahwa di Jewel bisa melakukan baggage drop untuk penerbangan Air Asia sampai dengan 3 jam sebelum keberangkatan, saya akan melakukannya di sana. Bahkan saya tidak perlu menggeret-geret si koper saat keliling Jewel.
  • Bertanya dengan konteks yang lengkap dan ke orang yang lebih tepat. Saat kami bertanya tempat untuk menaiki shuttle bus ke T4, si petugas melihat bahwa koper kami berdua kecil (20" atau 22" jika saya tidak salah) sehingga mungkin dia mengira bahwa koper tersebut adalah koper yang akan dibawa ke kabin (tidak perlu di-checkin-kan). Kami tidak menginfokan itu saat bertanya. Seandainya menginfokan, atau memang bertanya ke bagian informasi, kemungkinan kami akan diarahkan ke shuttle bus yang menghubungkan LS T1 dengan LS T4, bukan AS T1 dengan AS T4.
  • Seumur-umur, saya belum pernah membawa oleh-oleh yg mengandung cairan dari Singapura, baru kemarin itu sekali-kalinya. Hanya saja saya bosan dengan barang yang itu-itu saja. Not really sure if this was a mistake or not, tapi mungkin menghindari kejadian seperti yang kami alami adalah alasan banyak orang Indonesia ujung-ujungnya hanya membeli coklat, Irvin's, Garrett, dan benda-benda padat lainnya dari Singapura.
  • Adanya perbedaan urut-urutan di bandara Changi dengan beberapa negara lainnya, seperti pada gambar di bawah ini. Seandainya urutan pemeriksaan di bandara Changi sama dengan model di Heathrow, maka saya akan menyadari lebih awal bahwa saya tidak boleh masuk ke AS T1 karena kemungkinan saat ketahuan saya membawa cairan, saya akan kembali untuk mencari cara menuju LS T4. Anyway, ini bukan kesalahan siapa-siapa sih, pasti ada pro-cons untuk setiap model di bawah.
Perbedaan urutan di beberapa bandara


Akhir kata...

Alhamdulillah, semua terlewati dengan baik, saya berhasil...
  1. Membawa semua barang yang saya beli di Singapura.
  2. Membeli barang yang memang saya mau di area duty-free.
  3. Makan sebelum menaiki pesawat
  4. Sholat sebelum menaiki pesawat
  5. Melewati bandara Changi tanpa masalah keamanan apapun (sempat sedikit khawatir karena ada usaha masuk area passenger-only, untuk kemudian keluar lagi).
  6. ... Yang terpenting, tetap naik pesawat yang seharusnya saya naiki
Tidak lupa terima kasih kepada semua petugas di bandara Changi yang menurut saya sudah bekerja extra-mile hanya untuk membantu satu orang seperti saya, "cuma" dengan tujuan oleh-olehnya tidak harus dibuang. Nggak yakin apa yang bisa saya lakukan jika kejadian serupa terjadi di negara lain, ataupun di negara besar.

19.4.24

Cara Melakukan Pencairan Saldo JHT - BPJS Ketenagakerjaan

Wow, sudah 10 tahun sejak terakhir saya menulis di blog ini. Saya mencoba menghidupkan lagi deh. Berhubung ini tulisan pertama setelah 10 tahun, saya coba tulis hal yang ringan dan singkat dulu.

Ok, jadi saya baru-baru ini mengundurkan dari perusahaan saya terakhir. Dan untuk kali ini saya nggak ngoyo untuk segera dapat pekerjaan baru lagi, karena sebenarnya secara finansial, saya sudah mencapai fase financial freedom, alias penghasilan pasif sudah mencukupi kebutuhan hidup saya.

Nah, berhubung fase "berhenti kerja" kali ini cukup lama, saya memutuskan untuk mencairkan uang saldo saya di JHT (Jaminan Hari Tua) - BPJS Ketenagakerjaan, lumayan jumlahnya hampir 7 kali gaji terakhir saya.

Ternyata langkah-langkahnya cukup mudah:

  1. Kunjungi https://lapakasik.bpjsketenagakerjaan.go.id/
  2. Mengisi data yang dibutuhkan (pastikan bahwa sudah resign > 1 bulan, alias status BPJSTK-nya sudah tidak aktif)
  3. Menunggu sampai waktu wawancara
  4. Melakukan wawancara (via whatsapp)
  5. Menerima kabar bahwa proses pencairan valid dan tinggal menunggu transfer
Waktu yang dibutuhkan berapa lama? Ini pasti tidak bisa persis sama ya, tapi utk kasus saya seperti ini:
  • Pengisian formulir lapakasik
  • Jadwal wawancara - 15 hari setelah tahap di atas
  • Wawancara - di hari yg sama seperti tahap di atas, hanya jamnya cukup meleset (dijanjikan jam 1 siang, ternyata baru ditelpon jam 4 sore)
    • Akan diminta foto semua paklaring dan video call selama 10-20 detik saja
  • Uang masuk ke rekening - 3 hari setelah tahap di atas
Beberapa catatan yang penting:
  1. Paling pertama dan utama, pastikan kamu menyimpan SEMUA paklaring dari semua perusahaan tempat kamu bekerja. Paklaring adalah surat keterangan bahwa kamu pernah bekerja di perusahaan tersebut yang setidaknya harus mencakup data berikut ini: Nama lengkap, Posisi, Waktu Bekerja.
  2. Sebelum call via whatsapp, si pewawancara akan mengirimkan WA konfirmasi (sekitar 10 menit sebelumnya), pastikan bahwa di hari wawancara kamu cukup aktif mengecek WA ya.
That's all, semoga diperlancar prosesnya!

2.3.14

Remote Working, How?

Udah hampir setahun nggak nge-blog... Terakhir nge-blog saya baru gabung dengan perusahaan startup-nya temen-temen angkatan saya sendiri, who are Zaky, Fajrin, dan Nugroho. Setahun di sini, banyak hal yang saya pelajari, banyak hal yang harus saya akui saya tertinggal.

Belum terlalu lama yang lalu, saya membaca buku berjudul Remote. Pengarangnya adalah pendiri Basecamp yang mungkin sudah sangat terkenal. Selain buku itu, ia juga mengarang buku lainnya berjudul Rework, kedua buku itu sangat bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

Oke, kembali ke buku Remote ini. Poin-poin yang menarik dari buku tersebut yang saya garisbawahi adalah:

  • Konsep remote yang pernah saya pahami itu salah besar. Remote tidak berarti harus bekerja dari rumah, remote bisa juga dilakukan di kafe, di taman, di perpustakaan atau di manapun yang kita mau. Satu hal yang pasti, bedakan suasana saat sedang kerja remote dengan saat bersantai di rumah. Jangan pernah kerja remote di kasur, di depan TV, ataupun di dapur. Bahkan bukan tidak mungkin remote dilakukan di rumah, tapi dengan menggunakan pakaian yang rapi, jas, dan bersepatu.
  • Permasalahan utama pekerja remote bukanlah underwork, tapi justru overwork. Ini yang selama ini sering ditakutkan manajer atau bos di perusahaan. Mereka tidak percaya pada karyawan atau bawahannya. Lucunya, kalau dari awal tidak percaya, kenapa mereka harus direkrut?
  • Kerja remote justru memperlihatkan siapa yang kerja dengan benar dan siapa yang tidak. Kerja di kantor (on-site) justru bisa dibilang lebih "aman". Datang tepat waktu, pulang tepat waktu, berlaku baik bagi sesama, bersosialisasi sewajarnya, maka bisa dibilang posisi kita cukup aman. Kerja remote benar-benar mengubah konsep kerja seperti itu. Orang yang kerja bagus dan tidak akan lebih mudah terlihat dengan kerja remote itu.
  • Kerja remote harus diberikan kepada seluruh karyawan (yang mungkin melakukan kerja remote). Jangan hanya berikan privilege tersebut kepada, katakanlah, karyawan senior, manajer, atau orang-orang tertentu. Karena sikap setengah-setengah seperti ini justru merupakan blunder yang luar biasa.
So, untuk para pemilik perusahaan di luar sana, beranikah Anda memperkerjakan karyawan Anda secare remote (full-time)?

29.3.13

Membudayakan kebaikan

Sering saat kita mendengar istilah luar negeri, terutama negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman, Prancis, Belanda, atau bahkan Singapura, yang pertama terlintas dalam benak adalah kemajuan teknologi, kemajuan gaya hidup, segalanya serba otomatis, peran manusia dikurangi menjadi sesedikit mungkin, dan lain sebagainya. 

Saya tidak menyalahkan pendapat tersebut, karena mungkin sebagian besar pendapat tersebut benar, hanya saja menurut saya ada satu hal yang lebih perlu dicermati, dan dilaksanakan, untuk menjadi negara yang maju atau setidaknya menjadi negara yang mau maju, yaitu kebiasaan untuk berbuat baik. Ini saya rasakan sendiri dan saya jadi bingung sendiri, bukannya katanya budaya ramah itu budayanya orang timur dan sebaliknya, orang barat dikenal dengan individualismenya? 

Ada beberapa hal yang menurut saya pantas untuk dicermati: 

Mengucapkan terima kasih
Sesuatu yang mudah, tapi akan terasa sangat menyejukkan bagi yang menerimanya. Mulai dari hal-hal kecil, misalnya petugas kereta api setelah memeriksa tiket mengucapkan terima kasih, orang dikasih lewat jalan duluan juga mengucapkan terima kasih, atau bahkan orang diberikan pesanan makanan juga mengucapkan terima kasih ke pelayannya, meskipun itu memang tugas si pelayannya. Betapa indahnya jika kita membiasakan mengucapkan terima kasih ke orang lain.

Menahankan pintu otomatis
Pintu otomatis yang saya maksud adalah pintu-pintu yang setelah terbuka langsung otomatis tertutup lagi, seperti pintu yang menggunakan per/pegas ataupun pintu lift. Untuk yang kedua mungkin si orang yang mau masuk lift bisa menekan tombol duluan supaya pintunya tidak tertutup, pun kalau tertutup efeknya tidak terlalu buruk. Tapi untuk pintu yang setelah dibuka langsung "memantul" menutup kembali, sungguh cukup mengganggu orang berikutnya yang melewati, karena bebannya lebih berat (apalagi jika dia melewati pintu melawan arah pantulan si pintu), alangkah enaknya jika sang pintu sudah ditahankan orang yang lebih dulu lewat, dan pasti lebih indah jika disambung dengan hal yang saya tulis pertama, orang yang ditahankan langsung mengucapkan terima kasih. Indahnya dunia :)

Berjalan di satu sisi atau membuka jalan
Pernah terburu-buru? Bayangkan betapa menjengkelkannya jika kita terburu-buru berjalan menuju bioskop, katakanlah, kemudian masuk mall, sudah ingin berlari saja karena filmnya hampir dimulai, tiba-tiba di depan kita ada 4 orang ngobrol dengan riangnya, ngakak-ngakak, berjalan sangat lambat, dan parahnya, menutup semua area jalan! Kasus yang sama jika kita naik eskalator, dua orang di depan kita berdiri berdampingan, padahal kita terburu-buru. Untuk kasus kedua, di beberapa negara bahkan sudah ada semacam peraturan tidak tertulis, jika naik eskalatornya santai, berdiri, di sisi kiri, jika ingin berjalan di sisi kanan. Kan enak tuh, gak ada yang jadi terlambat nonton bioskop lagi :) 

Ya itu aja sih yang saya ingin tuliskan di sini. Kebiasaan-kebiasaan baik itu juga menentukan seberapa majunya suatu negara, karena kebiasaan pribadi dapat membentuk kebiasaan golongan, kebiasaan golongan dapat membentuk kebiasaan masyarakat, dan kebiasaan masyarakat yang telah 'hidup' cukup lama dapat menjadi kebudayaan masyarakat tersebut. Jadi mari membudayakan kebaikan :)

25.11.12

Mushola di Mall Bandung (I)

Mushola, atau Mushala, atau Musola, atau Mushalla, yang manapun itu, yang jelas ia adalah tempat solat serupa mesjid dengan ukuran lebih mini. Tidak seperti mesjid, mushola umumnya tidak memiliki gedung tersendiri, itupun karena adanya kebutuhan pengunjung atau pegawai di gedung tempat mushola itu berada untuk menunaikan ibadah shalat.

Pada tulisan ini, saya akan membahas beberapa mushola yang terletak di mall-mall di kota Bandung yang pernah saya kunjungi (mushola-nya, bukan mall-nya), berikut penilaian pribadi dari saya, yaitu lokasi (termasuk kemudahan akses), ukuran (relatif terhadap keramaian tempat), kenyamanan, dan kebersihan. Urutan penulisan ini semata-mata alphabetic-based, bukan berdasarkan keinginan pribadi atau orang lain atau hasil bayaran (kaya bakal ada yang mau bayar aja untuk hal gini). Oke mari kita mulai…

Bandung Electronic Center (BEC)
Mushola BEC terletak di basement, di area tempat parkir. Untuk yang perempuan terletak 1 lantai di bawah lantai terdasar toko-toko di BEC, sedangkan untuk yang laki-laki terletak 2 lantai di bawahnya lagi.

  • Lokasi: 4.5, awalnya nilainya adalah 5.5, akan tetapi karena untuk mencapai tempat ini harus naik lift (yang hampir selalu penuh) atau jalan kaki (yang sungguh berbahaya karena bersama kendaraan), saya menurunkan nilainya.
  • Ukuran: Jika semua orang solat sendiri di dalamnya, tempat ini mampu menampung sekitar 20 orang, tapi untuk solat berjamaah, idealnya tempat ini hanya menampung sekitar 16 orang, dengan asumsi ukuran untuk mushola perempuan sama besarnya dan dengan tingginya animo masyarakat di BEC ini, saya beri nilai 4.5.
  • Kenyamanan: 3, PANAS, SUMPEK, BERISIK, dan kawan-kawannya. Berhubung ada toilet di dekatnya, saya naikkan nilainya, seharusnya 2.
  • Kebersihan: Sajadah yang jorok, lantai yang basah, dan area yang kotor (karena di dekatnya banyak mobil berseliweran), saya beri nilai 2.5 untuk lokasi wudhu dan solat yang terpisah.
  • Total: 3.5

Bandung Indah Plaza (BIP)
Mushola BIP dahulu terletak di area parkir juga, tapi sekarang sudah dipindahkan ke lantai teratas (lantai 3).

  • Lokasi: 9.5, letaknya yang di dalam gedung memudahkan untuk hampir semua orang mendatanginya, hanya saja karena ia terletak di lantai puncak (bukan di lantai tengah), saya harus memotong 0.5
  • Ukuran: 10, seberapapun banyak jamaah solat, saya yakin tidak akan ada sistem kloter akibat harus menunggu di mushola ini.
  • Kenyamanan: 9.5, suasana yang cukup sejuk walau hanya ditemani kipas angin. Sayangnya ada beberapa nilai minus, yang pertama, area wudhu yang kurang luas, terutama setelah satu studio bioskop selesai penayangannya, antrian dapat menjadi cukup panjang (10-15 orang). Yang kedua, tidak adanya toilet, membuat orang harus ke toilet lain dulu sebelum berwudhu. Nilai bonus lagi untuk adanya petugas mushola yang setia melayani kita setiap saat setiap waktu (berlebihan sih)
  • Kebersihan: 9.5. Hampir sempurna, kekurangan hanya terdapat di tempat wudhu dan di area lepas/pasang alas kaki.
  • Total: 9.8

Braga City Walk (BCW)
Baru kemarin saya ke BCW, jadi masih sangat segar di ingatan. Mushola perempuan terletak di B1, sedangkan mushola laki-laki terletak di B2. Keduanya terletak persis di depan lift.
  • Lokasi: 5.5. Saya tidak bisa memberi nilai lokasi tinggi untuk mushola yang berada di basement. Walau begitu, mushola ini cukup mudah dijangkau dengan lift ataupun menggunakan tangga darurat. Nilai minusnya, liftnya terkadang penuh (walau tidak seramai di BEC) dan tangga daruratnya agak kotor.
  • Ukuran: 8.2. Walau ukurannya kecil (menampung sekitar 20-25 orang per mushola), tetapi berhubung tidak terlalu banyak pengunjung di mall ini, saya berani memberi nilai ini.
  • Kenyamanan: 8. Selain tempatnya yang agak panas, tidak ada masalah sama sekali. Toilet tersedia dekat, tempat wudhu cukup luas.
  • Kebersihan: 8. Tidak ada masalah besar pada tempat solat ini, hanya saja bau-bauan asap rokok kadang tercium, berhubung tempatnya yang memang di area yang dibolehkan merokok
  • Total: 7.5

Karena tulisan ini sudah cukup panjang sepertinya, saya akan beri penilaian untuk mushola di Ciwalk, Gramedia, PVJ, dan TSM pada tulisan berikutnya :)

12.5.12

Toleransi

Benar... Toleransi, itulah kata-kata yang sering diajarkan pada kita sejak masih duduk di bangku SD. Bersama rekan-rekannya, seperti gotong-royong, berbakti kepada orang tua, tolong-menolong dalam kebaikan dan kesabaran (caelah), ataupun gemar menabung, kata ini selalu mencekoki pemikiran kita, yang sayangnya tampak kurang efektif.

Bukan, saya bukan hendak berbicara tentang kacaunya negara Indonesia akibat kekurangtoleransian rakyatnya, tapi saya akan berbicara hal lain, keluarga saya.

Sebagai keluarga yang berkepala keluarga anak pertama dan beribu rumah tangga anak pertama juga, tidaklah heran bahwa kakak tertua saya adalah anak pertama kami, yaitu saya dan saudara-saudara kandung saya, adalah cucu-cucu tertua di keluarga besar, terutama di keluarga dari ayah saya (di keluarga ibu, ada 2 orang sepupu yang lebih tua dari saya). Sebagai cucu-cucu tertua, kami harus memberi contoh yang baik kepada sepupu-sepupu kami dengan budi pekerti yang luhur. Salah satunya adalah sikap toleransi.

Rupa-rupanya, sikap tersebut ternyata sudah tumbuh dari rumah, dalam hal makan-dimakan. Setiap makanan tersaji, entah atas perintah siapa, seenak apapun makanannya, seingin apapun kami memakannya, maka biasanya pasti ada saja 1 atau 2 buah tersisa di piring. Sebagai contoh, ayam bakar, kita semua pasti suka ayam bakar, apalagi kalo pedes-pedes gitu, dinikmati dengan segelas jus jeruk, di bawah sinar matahari yang tidak terlalu menyengat, nyummy nyummy banget pasti. Oke, kembali ke ayam bakar itu, mau sebanyak apapun ayam bakar yang disajikan, pasti ada sisa 1 atau 2 potong yang tidak termakan (yang pada akhirnya akan dimakan juga, tapi beberapa hari setelah dibuat). Saya merasa, ini sikap toleransi yang luar biasa, mungkin dalam benak kami-kami ini "kasihan yang lain mungkin ingin, jadi gak saya makan deh", meski sebenernya adalah "ntar kalo ngabisin disuruh nyuci piringnya, males ah".

Bukan hanya dalam masalah makanan yang diambil, tapi juga makanan yang dimakan, entah kenapa tiap kali makan, pasti rata-rata menyisakan makanan yang enak di akhir, pemikiran bagusnya, "siapa tahu ada yang kepengen, kan saya bisa berbagi", tapi ya, you know lah yang benernya gimana.

Lebih jauh, orang yang rajin bersikap toleransi adalah orang yang toleran. Toleran ini sifat anak yang manis, anak manis jangan dicium, karena kalau dicium, pipinya akan memerah. Sekian.

7.3.12

Menabung ayo kita menabung... emas...

Sesuai yang saya janjikan (dua hari yang lalu, di plurk), saya akan menulis hari ini (harusnya dua hari yang lalu)…

Berhubung pernah ada permintaan untuk menuliskan tentang menabung emas sebagai investasi jangka panjang, maka saya akan menuliskannya deh… Disclaimer: tidak ada proses promosi sama sekali dalam blog ini

Menabung emas, sesuatu yang diidam-idamkan semua manusia tidak seperti menabung uang di bank, perlu pertimbangan yang lebih cermat. Tiada mungkin kita menabung semua harta yang kita miliki dalam bentuk emas, karena tidak bisa diuangkan dengan sangat cepat (meski mungkin bisa diuangkan dengan cepat), tetap perlu ada uang dalam bentuk tabungan di bank atau uang cash yang bisa diambil sewaktu-waktu, dalam jumlah yang cukup (menurut beberapa sumber sih, pastikan ada uang sekitar 20-30% penghasilan bulanan dalam tabungan kita).

Setelah mengecek-ngecek beberapa tempat yang menjual emas (secara online), akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada dinar yang merupakan emas 4.25 gram 22 karat, di geraidinar. Beberapa alasan saya memilih dinar, dan lebih jauhnya, geraidinar, dibandingkan emas adalah:

  1. Selisih nilai jual dan nilai beli yang masih masuk akal. Emas, dengan variasi massa dari 1 gram sampai 1000 gram, memiliki selisih nilai jual dan beli yang bervariasi pula. Pembelian emas dalam pecahan kecil (1 gram) akan menyebabkan selisih ini cukup besar (bisa sampai 10%), sedangkan pembelian dalam jumlah sangat besar dapat meminimalkan selisih ini (bisa serendah 0.1%). Dinar (di geraidinar) berada di tengah-tengah keduanya, selisih nilai jual dan nilai beli sekitar 4%.
  2. Biaya cetak. Dari sekitar 10 situs tempat penjualan emas, semuanya memberikan biaya tambahan untuk penjualan emas (atau pembelian, jika dilihat dari sisi konsumen), biaya ini pun akan hilang (tidak dihitung lagi) saat emas itu sudah jadi. Sehingga selisih nilai jual dan nilai beli masih harus ditambahkan oleh biaya cetak ini. Lain halnya dengan geraidinar, dengan biaya cetak akan selalu dimasukkan di nilai dinar itu sendiri.
  3. Keterpusatan. Setelah memutuskan akhirnya memilih dinar instead of emas, saya perhatikan bahwa semua situs penjual dinar ini ujung-ujungnya bermuara ke geraidinar, alias semua dinarnya dibuat di geraidinar juga.
  4. Tingkat kepercayaan. Selain dapat rekomendasi dari teman saya yang menjadi direktur suitmedia (sekaligus penabung di geraidinar juga), pemilik geraidinar ini juga masih merupakan saudara dari mantan direktur suitmedia, yang sekarang menjadi direktur bukalapak.
  5. Kemudahan (dan keuntungan) menjual (dari sisi konsumen). Menjual emas, walau kabarnya gampang, tetap perlu usaha, yang tiada sedikit (kecuali jika koneksinya sudah banyak mungkin). Menjual dinar di geraidinar (walau saya belum pernah) akan jauh lebih mudah. Tinggal titipkan dinarnya ke geraidinar, maka mereka akan menjual ke calon konsumen berikutnya dengan harga 1% kurang dari nilai jual mereka, sejauh ini saya selalu melihat dinar 1% less (istilah untuk dinar dengan harga 1% kurang ini) laku dalam waktu kurang dari 48 jam. Uang yang akan kita peroleh (sebagai penjual sebenarnya) adalah nilai tengah dinar (jadi pihak geraidinar juga mendapat untung 1%), dan di sinilah letak "keuntungannya", karena kita masih akan memperoleh uang 2% lebih daripada nilai beli emas.
  6. Bagi hasil. Jika kita cukup percaya (termasuk saya), tidak usah ambil dinar kita terlebih dahulu, biarkan pihak geraidinar menyimpannya, lumayan ada bagi hasilnya, walau tidak terlalu besar
Akan tetapi, dengan segala alasan itu, tetap perlu diperhatikan bahwa menabung dinar (atau emas, pada umumnya) bukanlah tipe menabung cepat (hari ini beli besok jual, bahkan sebaiknya selisih waktu beli dan jual > 1 tahun), jadi ingat-ingat untuk selalu menyimpan uang siap-ambil. Dan satu lagi, menabung emas (atau dinar, pada khususnya, capek ya dibolak-balik segala) jangan dijadikan sumber penghasilan utama, jangan pernah. Tetaplah bekerja (berdagang misalnya), karena umumnya tetap jauh-jauh lebih menguntungkan. Sekian info seputar dinar dan emas ini, semoga berguna :)

3.1.12

Have you ever been trapped in a bathroom?

Not to be proud, but I have… How was the story? First, let's back to Indonesian since my English isn't that good… (if there's anyone want to read the English version [like there is], contact me)

Jadi begini kejadiannya, kejadian ini terjadi pada tahun 2009 atau 2010 (agak lupa persisnya) di asrama dulu di Portugal. Sebelumnya saya gambarkan sekilas tentang kamar dan kamar mandi di asrama tersebut. Kamar yang saya tempati adalah kamar untuk satu orang, hanya kamar mandinya saja yang shared. Posisi kamar mandinya pun agak aneh (untuk shared bathroom), ia terletak di antara dua kamar penggunanya, jadi kamar mandi tersebut memiliki dua pintu, masing-masing terhubung dengan kamar para penggunanya. Karena sistem kamar mandi yang seperti ini, TIDAK DIMUNGKINKAN mengunci kamar mandi dari dalam, karena itu bisa berbahaya bagi pengguna satu lagi, andaikan saya pengguna A dan saya mengunci pintu yang menghubungkan kamar si pengguna B dan kamar mandi, kemudian saya lupa membuka kuncinya, maka si B tidak akan bisa masuk kamar mandi selama-lamanya! *berlebihan sih*. Akan tetapi, pintu ini bisa dibuka dari kamar masing-masing, supaya sang tetangga tidak bisa masuk kamarnya itu.

Sistem tersebut sedikit banyak membuat agak risih, alasannya simple, sewaktu si A sedang di kamar mandi, bisa saja si B tiba-tiba masuk! Cara yang biasanya saya lakukan untuk "memastikan" bahwa bathroommate (istilah yang jelek kayanya, artinya ambigu pula) saya tidak masuk kamar mandi adalah:
1. Mandi
2. Menyalakan keran wastafel (dilakukan dalam SEMUA kondisi pada saat tidak mandi)

dan Alhamdulillah, sampai saya selesai menjalani kehidupan di Portugal, tidak pernah rekan di sebelah itu masuk kamar mandi saat saya sedang berada di dalamnya. Lebih jauh, dari sekitar 10 bulan saya di sana, hanya sekitar 2 bulan saja kamar di sebelah saya itu terisi (jadi serasa punya kamar mandi sendiri).

Oke, kembali ke inti cerita, saat itu kamar mandi sudah serasa milik pribadi, baru 2-3 hari sebelumnya penghuni kamar sebelumnya pergi, dia hanya ke Portugal untuk sebuah training selama seminggu, lumayan tiap ada penghuni baru, kamar mandi pun dibersihkan :D Saat itu, saya berencana cuci tangan dan mandi (baru selesai makan), maka pergilah saya ke kamar mandi *serasa jauh*. Kemudian entah kenapa, saya dengan begonya mengunci pintu kamar saya dan menutup pintu tersebut. MAMPUSLAH SAYA! Namun, karena tangan kotor, saya pun tetap mencuci tangan. Waktu itu yang ada di benak saya adalah "noooo, bisa-bisa harus ngejebol pintu, berapa ya kira-kira harga pintu? bisa-bisa abis ini duit beasiswa" (entah kenapa kepikiran duit aja). Kemudian menyesal karena telah bergembira sang tetangga kamar udah tiada di sana, kan bisa gedor-gedor minta dibukakan pintu kamar mandi olehnya. Huhuhu…

Kemudian, sebuah ide terpikirkan, ide cemerlang (gak cemerlang-cemerlang banget sih), yaitu mencoba membuka pintu yang menghubungkan ke kamar tetangga, dan ternyata sang pintu tiada terkunci!!! Terima kasih wahai tetangga, meski saya lupa siapa namamu, tapi dimanapun engkau berada, semoga amal engkau diterima! Setelahnya saya pun keluar dari kamar tersebut (sempat kepikiran untuk menggunakan si kamar tetangga jika ada tamu yang datang, kan lumayan kamar gratis :P), menuju satpam di lantai atas tanpa mengenakan alas kaki, menceritakan hal tersebut ke satpam (syukurlah satpam yang ada di sana itu yang bisa bahasa inggris saat itu) dan berhasil kembali ke kamar… Setelah itu benar-benar melanjutkan dengan mandi, sesuai yang direncanakan pada awalnya.

Malamnya, saya bercerita kepada Héctor, rekan saya di sana, tentang hal itu, dia bilang "it could be worse if you were me, Zakka. I never wear clothes if I want to go taking a bath". Syukurlah saya bukan dia…

PS: Ada cerita saya kekurung di kamar yang lain waktu di Portugal juga (saya ini waktu di Portugal kok doyan ama ya kekurung :P), tapi di post yang lain aja deh, capek nulisnya…

PS2: Maaf buat yang udah request isi postingan yang lain, lain kali juga ya :D

14.10.11

Keanehan keluarga...

Ini adalah cerita nyata tentang suatu keluarga, keluarga yang tidak biasa tapi benar-benar nyata... Yaitu, keluarga saya sendiri... Eh, maksudnya keluarga dari ayah dan ibu saya, yang terdiri dari ayah saya, ibu saya, dan anak-anaknya, termasuk saya, yang paling lucu...

Beberapa keanehan, mulai dari kurang aneh sampai yang paling aneh adalah sebagai berikut:

1. Untuk yang ini, khusus untuk kami berempat (saya, kakak-kakak, dan adik), semuanya pergi... ke Eropa untuk melanjutkan S2... Gatau ini aneh ato nggak deh...

2. Membiasakan diri untuk tidak makan nasi putih di kala sarapan. Ini adalah kebiasaan yang luar biasa anehnya! Berlebihan sih, tapi ya itu... Di kala sebagian besar orang Indonesia menganggap belum makan jika belum makan nasi, kami malah sudah terbiasa dengan makanan non-nasi di kala sarapan, walau kadang-kadang makan nasi, tapi nasi goreng...

3. Untuk yang nomer ini, khusus untuk kami bertiga (saya dan kakak-kakak saya), karena selain adik saya, yang bisa dibilang agak nyeleneh, semuanya satu selera... Mulai dari musik (lagu-lagu jadul), pakaian (celana panjang non-jeans), bahkan jurusan kuliah (Informatika) pun sama... Beda sekali dengan gaya adik saya yang suka lagu-lagu rock jaman kini, pakaian-pakaian yang gayanya aja terlihat beda, dan jurusan yang juga beda sendiri, yaitu SBM...

4. Momen wisuda bisa dianggap momen yang biasa-biasa saja... Tidak ada bedol desa untuk menghadiri wisuda anggota keluarga yang lain... Sebagai catatan, satu-satunya wisuda saudara saya yang saya hadiri adalah wisuda kakak kedua saya, itu pun karena saat itu saya bertindak sebagai salah satu panitia wisudaan tersebut :D

5. Masih menyambung dengan nomer 4, tidak ada foto-foto wisuda... Silakan datang ke rumah (ayah) saya, maka tidak akan Anda dapati satupun foto wisuda! Oh well, ada satu deng, foto ayah saya sewaktu lulus S2, berjabat tangan dengan rektor saat itu, Pak Kusmayanto, tapi that's it! Gak ada lagi...

6. [UPDATED!] Lagi-lagi yang ini khusus untuk kami bertiga (saya dan kakak-kakak saya). Kami bertiga menikah dengan rekan kuliah, satu ITB, satu fakultas, satu program studi, dan bahkan satu angkatan... Hehehe

18.6.11

Annoying Country Personalization Website

Oke, kali ini saya ingin bercerita, duduk ya semuanya... *caelah*

Jadi begini ceritanya, berhubung lokasi saya yang sedang tidak di Indonesia, saya jadi sering ngenet... Eh nggak deng, di Indonesia juga sering ngenet... Intinya bukan itu, intinya adalah, dengan berasumsi saya sedang berada di negara XYZ, seringkali saat saya membuka suatu situs, si situs tersebut dengan "pintar"-nya melakukan satu dari dua hal ini:
1. Melakukan redirect ke halaman negara XYZ situs yang bersangkutan
2. Mengganti bahasa isi dengan bahasa negara XYZ

Sampai di sini, kelihatannya bukan masalah besar, karena saya akan selalu bisa kembali ke situs XYZ berbahasa Inggris, tapi ternyata, tidak oh tidak saudara pemirsa pemirsi permisi saya mau lewat... Situs seperti google menyediakan fitur menyenangkan yang menghilangkan anoyansi gangguan tersebut, yaitu dengan mengeklik* menuju google.com/ncr dan untuk selanjutnya kita akan selalu disuguhkan google berbahasa Inggris... Beberapa situs lainnya menyediakan pilihan untuk mengganti bahasa menjadi bahasa Inggris, tapi sebagian situs yang lain tidak akan membiarkan hal itu terjadi (berlebihan)

Oke, jadi inti yang ingin saya sampaikan di sini adalah, kembalikan hal pelanggan untuk menuju ke situs berbahasa Inggris!
Sekian dan terima kasih.

*Menurut aturan bahasa Indonesia, apabila kita menambahkan imbuhan me- terhadap kata yang terdiri atas satu suku kata, maka awalannya harus menjadi menge-

4.4.11

The Power of Procrastination

Procrastination, istilah yang baru saya kenal dari blog, lewat komen Fajri Hanny di postingan ini (maaf, komennya sudah tiada karena saya menggunakan fitur HaloScan yang sekarang sudah tidak gratis lagi).

Procrastination, atau kebiasaan menunda-nunda, adalah sifat yang tercela. Pekerjaan menunda-nunda pekerjaan (funny, eh?) disebut procrastinate, sedangkan orang yang senang menunda-nunda pekerjaan adalah procrastinator, atau dalam bahasa umumnya, deadliner...

Procrastinator memiliki motto "jangan kerjakan hari ini pekerjaan yang bisa dikerjakan esok hari"... Baginya, mengerjakan sesuatu jauh-jauh hari adalah sebuah kesalahan besar, karena fokus untuk mengerjakan hal tersebut pasti tidak begitu tinggi, dibandingkan dengan mengerjakan sesuatu dekat dengan tenggat waktu (atau tenggang waktu?), dengan adrenalin yang tinggi, konsentrasi yang tinggi, dan tingkat stress yang sangat tinggi pula.

Saat diberikan pekerjaan yang penting, maka seorang procrastinator akan memilih mengerjakan hal-hal yang kurang penting atau tidak penting. Pekerjaan penting itu baru akan dikerjakan jika ada pekerjaan yang sangat penting. Sedangkan pekerjaan yang sangat penting akan dikerjakan menjelang deadline. Sebagai contoh, postingan ini, saya sudah menjanjikan akan nge-post blog kepada Amalia Rahmah dan Fajrin Rasyid sejak lebih dari sepekan yang lalu, tapi saya justru "sibuk" bermain game, ngeplurk, dan melakukan kegiatan yang nggak guna. Blog ini baru ditulis setelah saya mulai merasa inilah waktu untuk mengerjakan tesis. Dan jangan salah, di tengah-tengah menulis blog ini, ajakan dari Sherry Bayu untuk bermain boardgame jelas tidak akan saya lewatkan. Di sini terlihat pentingnya prioritas, dan saya melakukan itu dengan baik, meskipun tidak dengan benar :D

Untuk seorang mahasiswa, seorang procrastinator biasanya memiliki sifat yang cukup unik. Misal, terdapat sebuah tugas yang batas waktu (biar gak bingung tenggang vs tenggat) pengumpulan seharusnya 2 hari lagi, kemudian diundur oleh sang dosen yang baik hati menjadi 1 minggu kemudian. Mahasiswa procrastinator mungkin saja merasa kecewa, dengan alasan sudah ada tugas lain ber-deadline minggu depan, sehingga akan sangat sulit baginya untuk mengerjakan beberapa tugas sekaligus menjelang deadline tersebut. Dan ini benar-benar terjadi. Ini kisah nyata! *apa sih, Zak*

Pun saat pemberian tugas oleh sang dosen (atau asisten), bukan apa tugasnya, bagaimana mengerjakannya, atau sesulit apa perkiraan dia tentang tugas yang akan ada di benak seorang procrastinator, yang ada di benaknya hanyalah kapan deadlinenya, dan nantinya 2-3 hari sebelum sang deadline, dia bertanya kepada yang lain tentang tugas yang harus dikerjakan. Disinilah ke-fardhukifayah-an adanya orang yang tidak deadliner.

Dibalik segala keburukan procrastinator, saya pribadi berpendapat procrastination bukanlah sifat terburuk seorang mahasiswa. Walau tingkatannya mungkin di bawah Ngemeng Engineering, akan tetapi masih ada dua hal yang menurut saya pribadi masih lebih rendah daripada procrastination. Yang pertama adalah GB, alias Gaji Buta, dan yang terburuk adalah kebiasaan mencontek.

Akhirul kata, salah seorang rekan saya, bernama Hasanul Hakim pernah berujar, "mendingan deadliner daripada nggak. Kalo nggak deadliner, semua waktu habis buat ngerjain tugas, kalo deadliner, waktu kerja cuma 2-3 hari, sisanya bisa senang". Sekian

5.3.11

Sepenggal Kisah Lalu

Kemarin di tengah-tengah pelajaran Knowledge Representation and Ontologies, saat itu sang dosen sedang membahas tentang formalisasi Unified Modeling Language (UML) ke First Order Logic, tiba-tiba pikiran ini melayang ke masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah. Pada saat itu saya bertanya-tanya, "kok di kelas malah pikirannya kemana-mana?"

Oke, itu tidak penting. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba terbayang masa-masa SMP, saat saya masih lugu dan lucu (sekarang udah gak begitu lugu, tapi masih lucu yang jelas). Perlu diketahui, sampai akhir SMP saya benar-benar bertolak belakang dengan jelangkung. Makhluk itu, tidak peduli dengan eksistensinya, (menurut tagline film yang berjudul sama) "datang tak dijemput, pulang tak diantar". Nah, saya sampai selesai SMP masih diantar-jemput oleh supir di rumah.


Skip this paragraph, please!! Sebelum masuk ke tahap yang lebih jauh, saya akan sedikit membahas terminologi yang saya garis bawahi. Menurut de Morgan's Law, negasi dari konjungsi dua buah proposisi adalah disjungsi dari negasi masing-masing proposisi, atau dalam bahasa matematikanya ~(A^B) = ~AV~B. Pada kasus di paragraf kedua, bentuk negasinya sebenarnya cukup "datang dijemput atau pulang diantar", akan tetapi jika keduanya benar, sebenernya tetap benar, oleh karena itulah saya gunakan frase BENAR-BENAR.

Kembali ke masalah SMP tadi. Akibat hal tersebut, saat yang paling saya sukai adalah Minggu pagi, karena hari itu ada ekstrakulikuler bulutangkis di sekolah. Selain itu yang "menyenangkan" adalah kebebasan jam pulang karena saya pulang sendiri naik angkot. Hal yang menyenangkan lainnya, selain bulutangkis dan kebebasan waktu pulang, adalah saat diantara keduanya.

Tiada banyak yang saya (dan teman-teman) lakukan di masa itu. Jajan, jalan-jalan (tidak lama juga), menghirup udara Bandung yang (dulu masih) segar. Tapi entah mengapa, kadang hal-hal kecil dan sederhana seperti itu terasa luar biasa menyenangkannya.

Dan tadi saat "layangan" pikiran itu kembali ke kelas, barulah kusadari, terasa betapa "menderitanya" kehidupanku saat ini.

1.3.11

24, 25, and 26....

... adalah batas usia youth di sebagian besar wilayah Eropa. Untuk selanjutnya, istilah youth akan diganti dengan kawula muda.

Itulah salah satu alasan, jika ingin berkuliah di Eropa dan berjalan-jalan adalah salah satu tujuan sampingan utama (tujuan sampingan yang diutamakan), bersegeralah! Hal ini juga berlaku jika bepergian ke Eropa hanya untuk berjalan-jalan. Alasannya jelas, perusahaan-perusahaan transportasi (umumnya transportasi darat) dan tempat wisata umumnya memberikan harga yang berbeda, lebih murah tentunya, untuk mereka yang masuk kategori ini. Lebih lanjut, jika memang terdaftar sebagai mahasiswa, ada kemungkinan mendapat diskon lebih (atau, mereka yang mendapat diskon hanya mahasiswa yang kawula muda, atau kawula muda yang mahasiswa). Sayangnya hal ini tidak berlaku untuk restoran-restoran atau tempat makan.

Tidak ada penjelasan mengenai aturan resmi, tiap negara, bahkan tiap tempat bisa memiliki aturan yang berbeda. Mungkin saja untuk masuk bangunan A di kota X, ada diskon untuk mereka yang berusia dibawah 25 tahun, tapi bangunan B di sebelahnya memberi diskon untuk mereka yang berusia dibawah 26 tahun. Atau bangunan C memberi diskon untuk mereka yang berusia dibawah 25 tahun dan mahasiswa, atau mungkin saja bangunan D memberi diskon untuk mereka yang mahasiswa, tidak peduli usianya, atau beberapa aturan yang tidak tercakup disini, seperti, hanya mahasiswa yang berkuliah di Uni-Eropa saja yang mendapat diskon, dan sebagainya.

Saya sendiri cukup beruntung dalam kasus ini. Sewaktu di Portugal, harga tiket transportasi (bulanan) berbeda untuk mereka yang berusia dibawah 24 tahun DAN berstatus mahasiswa di Portugal (diskon 50%). Sedangkan sekarang di Italia, harga tiket transportasi (tahunan) berbeda untuk mereka yang berusia dibawah 26 tahun DAN berstatus mahasiswa di Italia (harga khusus, 100 euro per tahun untuk seluruh alat transportasi murah dalam satu regional). Andai kasus perpindahan saya dibalik (dari Italia ke Portugal), saya tidak akan mendapatkan kemudahan itu di Portugal tentunya.

Demikian dan terima kasih.

24.2.11

Not so important posting...

Perjalanan yang kutempuh selama 5 hari ke Lisbon kemarin telah memberikan cukup banyak pelajaran.

Bukan hanya bahwa tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama terhadap suatu masalah apalagi untuk memahami pandangan yang berbeda tersebut, bukan pula sekadar mengetahui bahwa hidup saya yang hampir satu tahun di wilayah ibukota Portugal tersebut ternyata masih belum cukup untuk mengetahui, apalagi memahami, sejarah kota itu. Bukan pula menyadari bahwa perjalanan Bolzano-Milano membutuhkan waktu lebih lama daripada perjalanan Milano-Lisboa.

Lebih dari itu semua, menyadari arti penting seorang sahabat dan lebih kepada penjagaan diri, karena sebuah kesalahan "kecil" di masa lalu dapat mengakibatkan luka yang dapat menjadi penyesalan di masa yang akan datang.

Untukmu, sahabatku, terima kasih untuk maafmu dan pelajaran hidup yang telah kau berikan. Lupakan masa itu dan tataplah masa depan yang, Insya Allah, lebih cerah.

16.12.10

"Clean" Programming Check-List

Alhamdulillah, masih bisa mempertahankan (at least) one post per month...

Kali ini, seperti yang tertulis di judul, saya akan sedikit membahas mengenai checklist memprogram, atau dalam bahasa Bu Inge-nya, "Sudah seberapa 'bersih'-kah kamu memprogram?" Saya "berani" membawa topik "kebersihan" program karena, meski ada tulisan tentang Why can't programmers program, saya cukup yakin bahwa pembaca blog ini terdiri "hanya" dari dua tipe saja:
  1. Teman/saudara/kerabat/handai Taulan (TSKHT) saya
    • TSKHT saya yang pernah berurusan dengan dunia pemrograman. Anda pasti bisa memprogram!
    • TSKHT saya yang memang tidak berurusan dengan dunia pemrograman (kayanya sebentar lagi bakal nutup tab ini deh :( )
  2. Orang "lewat"... Jika Anda masuk kategori ini, saya yakin Anda bisa memprogram... Soalnya kalo nggak, gimana caranya bisa nyasar ke blog ini... Wong Page Rank-nya aja cuma 3/10...

Dengan asumsi demikian, Anda pasti bisa memprogram atau tidak pernah berurusan dengan dunia pemrograman... Oleh karena itu, tidak ada salahnya memeriksa kebersihan kode seseorang yang memprogram (!= programmer). Berikut ini daftar yang "dikeluarkan" oleh Bu Inge dalam memprogram: (dalam kasus ini, saya menggunakan Java)

  1. Tidak pernah menggunakan break ataupun continue, so instead of doing something like this:
    int ans = -999;
    for(int i = 0; i < strArr.length; i++){
        if(strArr[i].equals("elvi")){
            ans = i;
            break;
        }
    }
    akan jauh lebih baik jika memperbaikinya menjadi begini:
    int ans = -999;
    {
        boolean found = false;
        for(int i = 0; i < strArr.length && !found; i++){
            if(strArr[i].equals("elvi")){
                ans = i;
                found = true;
            }
        }
    }
    Ini memang "ujian" paling berat, apalagi dari segi panjangnya kode, kode kedua lebih panjang
  2. Tidak memberi return lebih dari satu di satu fungsi, so instead of doing something like this:
    if(i == 2)
        return i;
    return i+1;
    akan jauh lebih baik jika memperbaikinya menjadi begini:
    int ans;
    if(i == 2)
        ans = i;
    else
        ans = i+1;
    return ans;
    
    atau untuk memendekkan kodenya, menjadi seperti ini:
    int ans = i;
    if(i != 2)
        ans++;
    return ans;
    
  3. Tidak memberi return di prosedur (void), so instead of doing something like this:
    public void voidA(int x){
        if(x == 2) return;
        else {
            // do something
        }
    }
    akan jauh lebih baik jika memperbaikinya menjadi begini:
    public void voidA(int x){
        if(x != 2) {
            // do something
        }
    }
  4. Tidak melakukan kesalahan-kesalahan "konyol" memprogram, so instead of doing something like this:
    int i = 0;
    boolean found = false;
    while(!found){
        // do something
        if(/* something happened*/) found = true;
        i++;
    }
    i--;
    or this:
    int i = someFunction();
    if(i == 1){
        // doing something that doesn't change the value of i
    }
    if(i == 2){
        // doing something
    }
    akan jauh lebih baik jika bagaimana? Saya serahkan kepada pembaca untuk menjawabnya...
  5. Tidak cetak-cetek pulpen :D
    Karena cetak-cetek bulpen adalah awal dari kegilaan dunia... Hehehe...
Mungkin banyak, termasuk saya, terutama yang sudah masuk di dunia "nyata" mempertanyakan pentingnya "kebersihan" dari program, tapi saya sendiri sampai saat ini melihat hal diatas sebagai keindahan pemrograman... Meski sama sekali tidak menutup kemungkinan saya melakukan satu (atau lebih) kesalahan diatas, terutama saat kepepet dikejar deadline(eniwei, istilah yang bener untuk batas akhir pengumpulan (tugas, dkk) adalah deadline bukan dateline)


Terakhir... Pesan yang selalu disampaikan oleh Bu Inge kepada anak didiknya "Anakku, jadilah orang waras di dunia yang sudah gila ini"

27.11.10

Dream on dream on...

Keep on dreaming, friends...

Bermimpi memang tidak ada salahnya, masih berkaitan dengan KTT (Khayalan Tingkat Tinggi) (baca juga: Perusahaan Penerima Pekerja dan kehancuran dunia IT), kali ini saya memiliki ide lain, terutama berguna untuk orang dengan mobilitas tinggi dan lebih terutama lagi, untuk negara dengan kualitas internet pas-pasan (saya tidak akan menyebutkan contohnya) :D

Ide yang saya mimpikan ada 2, yang pertama adalah... TRANSFER BANDWIDTH...

Jadi, meski rekan-rekan sudah bisa membayangkan, saya akan menjelaskan sedikit.. Pada saat dua orang, yang satu kaya bandwidth (A) dan yang lainnya miskin bandwidth (B), sedang online bersama... Nah, si B bisa meminta bandwidth beberapa puluh kilobyte(atau ratus kilobyte, atau beberapa megabyte, atau sesukanya lah, tergantung keinginan dan kesepakatan antara A dan B) kepada si A, dan kemudian dia bisa memanfaatkannya... Andai teknologi ini benar-benar terlaksana, hmmm, mungkin bisa dijadiin lahan bisnis juga tuh, seperti "sedia bandwidth sampai 5 Megabit per second hari ini! langganan bandwidth hanya 100 ribu per bulan", sepertinya seru sekali yaaaa... Ihihihi...

Permasalahannya adalah, si penerima (B) masih memerlukan bandwidth (sedikit) untuk menerima transfer-an bandwidth dari si pengirim (A). Oleh karena itu, diciptakanlah ide kedua!! (kaya ide itu apa aja, harus diciptakan segala) Ide kedua dari saya ini adalah, BANDWIDTH STORE!!

Nah yang ini keliatannya jauh jauh lebih asik lagi... Jadi kita bisa menyimpan bandwidth ke dalam suatu drive (hard drive, flash drive, atau mungkin perlu dibuat drive khusus untuk penyimpanan bandwidth). Bahkan di wilayah dengan bandwidth pas-pasan pun, teknologi ini akan sangat membantu. Bayangkan saat kita tidur, kita menyimpan semua bandwidth yang bisa kita peroleh ke dalam drive, kemudian saat kita bangun, tiba-tiba kita mendapati drive kita sudah berisikan bandwidth sebesar 5 GB download dan 1 GB upload... Coba bayangkan jika ini terjadi saat kita mau pulang kampung, yang tidak ada koneksi internet... Kita tetap bisa berselancar di kampung halaman! Jika ide ini benar-benar bisa terealisasikan, sungguh kasian ISP-ISP yang bertebaran di luar sana, sepertinya gak banyak yang masih digunakan di dunia ini... Hwehehehe...

Andai dua ide ini terwujud, nikmatnya hidup ini... Wawawawawa

4.10.10

Caparica vs Bolzano

Walau gabaik membanding-bandingkan, tapi saya tetep pengen bandingin aja, gak untuk menyesal atau terlalu bersenang diri kedepannya, hanya perbandingan biasa saja... Sebelumnya untuk yang tidak tahu dimana itu Caparica dan Bolzano, Caparica itu adalah wilayah suburban Lisbon, jaraknya hanya sekitar 7 km dari ibukota Portugal tersebut, sedangkan Bolzano adalah sebuah kota bilingual di utara Italia, kota besar terdekat dengannya mungkin Milan, yang berada 200 km di tenggara dari Bolzano.

Iklim
Dari segi iklim, Caparica jelas jauh lebih "menggoda" untuk ditinggali... Alasan tidak lain adalah stabilitas (halah) cuaca di sepanjang tahun... Suhu disana (sepanjang satu tahun saya berada) berkisar antara 6-32 derajat celcius, sedangkan di Bolzano sepertinya panasnya mencapai 37-38 dan dinginnya sampai bersalju (yang berarti di bawah 0 derajat celcius)... Sebagai perbandingan, tahun lalu di Caparica suhu udara sampai pertengahan Oktober masih diatas 20 derajat celcius, sedangkan di Bolzano, saat ini (awal Oktober) suhu berkisar 10-17 derajat celcius...

Biaya hidup
Emang gak baik membandingkan biaya hidup (kalo dirupiahin dan dibandingin dengan biaya di Indonesia, atau Bandung pada khususnya). Akan tetapi perbandingan biaya hidup di Bolzano dan Caparica, yang notabene keduanya sama-sama memakai mata uang Euro, pun ternyata cukup terasa... Selain harga tiket bus di Bolzano yang lebih murah, harga barang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya di Bolzano berkisar antara 10-80% lebih mahal daripada harga barang yang sama di Caparica. Menurut salah seorang Italia, Bolzano memang kota termahal di Italia, bahkan diatas Roma ataupun Milan biaya hidupnya...

Komunitas Indonesia, komunitas muslim, makanan halal
Untuk tiga hal ini... Bolzano unggul mutlak... Perlu diperhatikan bahwa saya HANYA memperhitungkan keadaan di Caparica vs Bolzano saja, tidak meliputi wilayah sekitarnya seperti Lisbon... Bahkan jika dibandingkan dengan Lisbon, sepertinya komunitas muslim dan makanan halal di Bolzano masih lebih unggul, terutama dalam masalah makanan halal.

Kampus
Tujuan utama pergi "jalan-jalan" ke Eropa kan kuliah, jadi hal ini harus jadi perhatian juga. Dari segi ranking dunia, Universidade Nova de Lisboa (UNL) yang berada di sekitar 500 dunia jelas jauh di atas Freie Universitaet Bozen/Libera Universita di Bolzano/Free University of Bozen-Bolzano (FUB) yang bahkan tidak masuk 1000 besar dunia, tapi buat saya itu bukan masalah utama dalam kehidupan :D

1. Bahasa: FUB yang merupakan kampus trilingual (Italiano, Deutsch, English) jelas jauh lebih memberikan kehidupan yang nyaman, terutama dalam hal pelayanan, kepada 100% mahasiswanya, mulai dari rektor kampus sampai staf sekretaris hampir semuanya bisa berbicara ketiga bahasa tersebut...
2. Fasilitas: Fasilitas yang paling terlihat luar biasa dari FUB adalah perpustakaannya, yang sangat besar, dibandingkan dengan UNL, jelas UNL kalah telak. Beberapa keunggulan UNL adalah adanya kafe-kafe kecil di hampir setiap bangunannya. Dari segi kantin, lab, dan lain-lain, keduanya bisa dikatakan seimbang lah.
3. Infrastruktur: Ini juga satu lagi keunggulan mutlak dari FUB. Student card disini jelas benar-benar bisa dipakai untuk apapun. Student card ini bisa diisi uang, yang kemudian bisa kita gunakan untuk makan di kantin atau ke unibar, masuk ke kampus, masuk ke ruangan-ruangan tertentu, pinjam buku secara otomatis (gak perlu berkomunikasi dengan pustakawan), melakukan aktivitas seperti nge-print, nge-scan, fotokopi... Semuanya bisa (dan hanya bisa) menggunakan student card ini. Bahkan vending machine saja menggunakan student card, benar-benar dimanjakan, tapi hati-hati student card hilang == siksaan hidup selama beberapa hari (dan denda).
4. Jam buka: Jika melihat jam buka perpustakaan saja, FUB jelas menang karena senin-jumat buka dari jam 8-24 dan hari sabtu buka dari jam 9-17 (serta bisa ada akses 24/7 terutama bagi mahasiswa yang mengejar pengerjaan tesisnya, dengan izin terlebih dahulu), UNL hanya buka dari 9-19, itu pun hanya hari senin-jumat saja. Tapi jika melihat jam buka kampusnya, FUB kalah karena hari minggu umumnya tutup (nasib kampus yang hanya berupa bangunan doang, bukan kompleks yang luas), sedangkan UNL selalu buka.

Area wisata
Kalo soal yang ini... susah dikatakan... Jika perbandingannya hanya kota Caparica vs kota Bolzano... Bolzano unggul karena banyak pegunungan yang bisa dikunjungi (dan dipanjat). Tetapi meluas sedikit, Caparica unggul karena dekat dengan Lisbon yang penuh dengan bangunan-bangunan bersejarah yang eksotis (halah). Tetapi meluas dikit lagi (30 menit - 3 jam perjalanan darat), pertandingan mungkin menjadi lebih seimbang... Caparica mendapat "dukungan" dari, bisa dibilang, semua wilayah Portugal (maklum Portugal negara kecil), sedangkan Bolzano meliputi kota seperti Milan yang berada di negeri sendiri, ataupun "sokongan" negara sebelah seperti Innsbruck (Austria) dan Muenchen (Jerman).

Kemungkinan berkunjung ke tempat kakak
Hahahaha... Ini jelas menjadi topik yang sangat PENTING! Okey, dalam hal ini... Kalo cuma dilihat dari segi waktu, mungkin Caparica sedikit lebih unggul... Mengingat hanya butuh 45 menit ke bandara dan 3 jam menuju bandara Koeln/Bonn serta 30 menit ke tempat kakak saya yang pertama... Kasusnya tidak akan jauh berbeda untuk menuju Rotterdam (sepertinya). Sedangkan dari Bolzano ada 2 kemungkinan, menggunakan pesawat berarti perlu ke Milan dulu yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam, kemudian pesawat ke Koeln/Bonn (jika ada, mungkin sekitar 1 jam), dan seterusnya. Kemungkinan lainnya adalah menggunakan kereta yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam.

Akan tetapi, jika memperhitungkan harga yang yang harus dibayar, Bolzano gantian memimpin karena biaya satu perjalanan (dengan kereta) "hanya" sekitar 40-60 euro, sedangkan dari Caparica membutuhkan setidaknya 80-90 euro...

Okey, sekian dulu perbandingan dua kota tempat saya menuntut ilmu masing-masing 1 tahun (amiiin, semoga tesis cepat kelar), semoga dimanapun saya berada, saya bisa menikmati setiap detik yang saya lewati... Amiiiiiiiiiiin...

31.8.10

Ternyata....

Hampir satu setengah bulan sudah saya menginjakkan kaki di bumi Indonesia tercinta ini. Satu hal yang saya rasakan, pikiran saya banyak sekali tercurahkan di berita-berita jelek yang hadir setiap waktunya. Kasus kedaulatan NKRI, kasus senior paskibraka yang anonoh, kasus pembunuhan maling helm oleh polisi, penyiksaan pengendara motor yang mengingatkan polisi karena ber-sms selama mengendarai motor, sampai yang terbaru ini, penembakan nelayan oleh polisi untuk melindungi pihak pemodal.

Berita yang terakhir ini membuat hati ini sangat miris, bagaimana tidak, kita merasa kedaulatan kita sedemikian terinjak-injaknya karena polisi Malaysia yang 'melindungi' warganya dengan melakukan penangkapan warga negara asing (dengan cara yang salah) telah dianggap menodai kedaulatan negara ini. Tapi justru di dalam negeri, polisi Indonesia 'melindungi' warga negara asing dengan cara mengorbankan warga negaranya sendiri, bukan sekadar ditangkap, tapi langsung ditembak mati. "Luar biasa" sekali, dan kita masih menganggap apa yang dilakukan polisi Malaysia itu cukup gila, bahkan melempari kedutaan Malaysia dengan kotoran...

Memang 'kejahatan' sudah benar-benar mengakar ke segala pelosok negeri ini. Termasuk tadi. Tadi saya berbelanja buku di Palasari, karena saya tahu, diskon di Palasari terkenal paling besar di seantero Bandung ini, apalagi jumlah buku yang saya beli cukup banyak. Untungnya saya sudah mencatat buku-buku apa saja yang mau saya beli, sebagian saya baca resensinya di internet dan karena masuk 'best seller'-nya Gramedia, dan juga harga buku-buku tersebut di Gramedia (yang setahu saya, tanpa diskon).

Sewaktu membeli buku-buku tersebut, saya melihat harga-harga yang ditulis oleh penjual disana di bon, kemudian dia memberi diskon 25%, yang sudah lumayan besar. Sebelum membayar, karena saya punya daftar harga di Gramedia-nya, saya bisa membandingkan harga 'tanpa diskon' Gramedia dengan harga 'tanpa diskon' di Palasari, dan ternyata saudara pemirsa, harga di Palasari sudah dinaikkan terlebih dahulu oleh sang pedagang! Sehingga jika dihitung-hitung, diskon yang kami (saya ke Palasari bersama ibu saya) hanya sekitar 5-10%. Saya pun protes kepada sang pedagang dan mengatakan kepadanya daftar harga di Gramedia untuk buku-buku tersebut. Pedagang tersebut pun berkilah bahwa buku-buku di Gramedia sebagian sudah didiskon, yang saya yakin adalah suatu kebohongan. Akhirnya saya meminta harga buku-buku tersebut dihitung ulang dengan harga dasar = harga di Gramedia.

Saya sama sekali tidak menyangka, bahkan Palasari, yang terkenal dengan kemurahan harganya, ternyata melakukan kecurangan semacam ini. Saya kira kecurangan penaikan harga sebelum diskon hanya dilakukan oleh supermarket-supermarket yang mengatakan "Diskon 50%", padahal harga si barang sudah dinaikkan hampir 2x lipat terlebih dahulu, sehingga diskon sebenarnya menjadi sangat kecil.

Akhirul kata, jika Anda semua berminat membeli buku di Palasari, ada baiknya mengecek 'harga asli'-nya di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, atau semacamnya, sehingga menghindarkan dari kasus penipuan seperti ini. Memang ada-ada saja cara orang Indonesia untuk menipu orang lain, segala cara pun dihalalkan.

11.8.10

Cara mudah meraih beasiswa...


Sebelum kita masuk ke bagian intinya, saya akan memberikan sedikit pencerahan, supaya pembaca tidak salah tangkap maksud beasiswa disini. Jadi saya akan jelaskan dulu, baru pertanyaan utamanya akan dijawab belakangan.

Okey, beasiswa itu terdiri dari berbagai macam... Dilihat dari jenisnya, beasiswa umumnya dibagi menjadi beasiswa ekonomi lemah dan beasiswa prestasi. Cukup jelas bahwa untuk mendapatkan beasiswa ekonomi lemah, harus ada bukti ekonomi bahwa yang bersangkutan tidak dapat menjalani kuliah tanpa memperoleh bantuan, sedangkan beasiswa prestasi sendiri tentunya dibuktikan dari prestasi-prestasinya terdahulu dari si calon penerima beasiswa. Dilihat dari besarnya, beasiswa dapat terbagi dua, yaitu beasiswa parsial dan beasiswa total. Saya sendiri lebih cenderung mengklasifikannya demikian, beasiswa dianggap beasiswa total jika sang penerima beasiswa (secara normal) tidak perlu menyediakan uang lagi sama sekali untuk kebutuhan hidupnya selama masa beasiswa. Jadi beasiswa kuliah-gratis serta beasiswa uang dengan jumlah yang lumayan tapi masih memerlukan uang tambahan dari si penerima beasiswa saya kategorikan sebagai beasiswa parsial.

Terakhir, berdasarkan lingkupnya, saya membagi beasiswa menjadi tiga, yaitu beasiswa lokal, beasiswa nasional, dan beasiswa internasional. Beasiswa lokal adalah beasiswa yang diberikan suatu instansi hanya kepada orang-orang di dalam instansi tersebut. Beasiswa nasional adalah beasiswa dari suatu instansi kepada orang-orang dalam lingkup yang lebih luas, umumnya kepada orang-orang di negara yang sama dengan negara si instansi, dan dapat dipergunakan di negara tersebut. Sedangkan beasiswa internasional, pemberinya bisa dari mana saja, penerimanya bisa dari mana saja, dan penggunaannya di luar negara sang penerima beasiswa.

Okey, sekian untuk penjelasan singkat seputar beasiswa. Beasiswa yang saya terima, Erasmus Mundus (EM), secara jenis sendiri bisa dikategorikan beasiswa ekonomi lemah + beasiswa prestasi, meski mungkin sang pemberi beasiswa lebih menekankan pada beasiswa prestasi. Saya sendiri menambahkan ekonomi lemah di beasiswa ini karena umumnya, sebagian orang tidak bisa mengikuti perkuliahan program EM ini (yang berlangsung di setidaknya 2 negara eropa) tanpa pemberian beasiswa. Dari besarnya, beasiswa ini tergolong beasiswa total, sedangkan lingkupnya adalah beasiswa internasional.

Karena beasiswa yang saya terima adalah EM ini, saya akan menspesifikkan judul blog ini menjadi "cara mudah meraih beasiswa EM", supaya saya tidak terkesan ngasal tahu beasiswa yang lain (karena ada ratusan atau bahkan ribuan beasiswa di dunia). Dengan menulis ini saja, saya khawatir sudah agak sok tahu karena setiap program EM memiliki syarat, ketentuan, serta aturan penilaian yang berbeda-beda.

Oke, langsung masuk ke inti masalah. Bagaimana cara mudah meraih beasiswa Erasmus Mundus? Jawabannya adalah.... TIDAK ADA.... Hahahaha, kasian sekali Anda semua para pembaca yang membaca tulisan ini dan benar-benar serius merasa ada cara mudah meraih beasiswa. Tidak pernah ada yang mudah dalam persaingan memperebutkan beasiswa, semua harus diperjuangkan, sejak pencarian beasiswa, biaya-biaya yang diperlukan untuk aplikasi beasiswa, biaya-biaya untuk tes bahasa asing, dan lain-lain...

Tulisan ini sebenarnya saya maksudkan untuk menyindir orang-orang yang maunya "disuapin" terus... Silahkan buka situs ini, perhatikan berapa banyak pengunjung yang datang dan hanya bertanya "saya mahasiswa jurusan xyz, ada beasiswa Erasmus Mundusnya gak?" atau "kalo ada info pembukaan beasiswa tolong kasih tau yaa!", bahkan sampai "saya mahasiswa terbaik jurusan abc universitas abcdef, ada jurusan yang sesuai buat saya gak?" Fuuuh, saya sampai heran, ini orang bener-bener mahasiswa terbaik gak sih... Padahal jelas-jelas di tulisan atasnya sudah ada "LANGKAH SINGKAT MENDAFTAR ERASMUS MUNDUS (EMMC dan EMJD)" yang seharusnya sudah lebih dari cukup. Kalau untuk mencari beasiswanya saja tidak ada usaha, gimana mau dapetin beasiswanya...

Okey, sekian dari saya, sampai jumpa di lain kesempatan! :) Happy Ramadhan bagi yang menjalankan ibadah Ramadhan :)