8.4.08

Ujian Open Book, adilkah???

Pertanyaan tersebut terbersit di pemikiran saya...

Adilkah ujian Open Book (untuk selanjutnya disebut OB). Bagi saya, ini ujian yang 90% adil, dan akan menjadi adil, jika sarana dan prasarana di kampus sangat memadai. Mengapa demikian? Karena ujian OB berarti menguntungkan (sedikit maupun banyak) mereka yang memiliki buku, dan untuk mendapatkan buku itu, perlu keluar biaya yang tidak sedikit (kecuali perpustakaan memiliki cukup banyak buku yang sama, dan inilah alasan mengapa saya mengatakan ini menjadi adil jika sarana dan prasarana di kampus sangat memadai)... Secara logika, hampir tidak mungkin perpustakaan menyediakan buku sebanyak jumlah mahasiswa, setidaknya di IF, jumlah buku kuliah per mata kuliah mungkin hanya sekitar 3-5 buku saja... Jadi itu sebabnya, bagi saya ujian ini 90% adil.

Mengapa angkanya masih cukup tinggi? Karena yang kurang mampu beli bukunya, mungkin bisa meng-copy beberapa bagian saja, makanya tingkat keadilannya masih cukup tinggi.

Kemudian, dari sini, biasanya terpikir... Adilkah ujian Open Anything (selanjutnya disebut OA). OA disini berarti boleh buka Laptop dan buku. Bagi saya, ini ujian yang tingkat keadilannya 15%, dan mungkin menjadi 100% jika sarana dan prasarana kampus gila-gilaan. Kenapa? Karena laptop bukan barang murah, dan hampir mustahil sebuah kampus menyediakan laptop untuk setiap mahasiswanya... Selain itu, jika dua mahasiswa, sebut saja si A dan si B, kemudian si A menggunakan buku, si B menggunakan laptop, bisa dipastikan si B bisa lebih cepat menemukan apa yang ia cari, teknologi ctrl+F mungkin harus di-disable kalo mau meningkatkan tingkat keadilannya... (emang bisa ya?) :P

Ternyata, ada juga dosen yang lebih aneh lagi, sistem ujiannya bahkan Open Laptop (OL) (dan tidak boleh buka buku). Dari penjelasan diatas aja, saya bisa menarik kesimpulan ini ujian yang sama sekali tidak adil...

Dosen yang baik adalah dosen yang memaksa mahasiswanya belajar, atau setidaknya membaca, dan menciptakan ujian Open Notes (ON) dengan maksimal sekian lembar kertas. Ini, bagi saya ujian yang 100% adil...

Dari 4 tipe ujian diatas, jadi dapat disimpulkan, bahwa ujian ON paling adil. Meskipun demikian, masih ada satu tipe ujian yang adil juga, yaitu ujian Closed Book. That's all folks...

26.3.08

Kebodohan di dunia IT...

Pertanyaan: Kebo kebo apa yang salah? Jawab: kebodohan...

Okey... kita masuk ke intinya, inilah kebodohan dalam dunia IT yang pernah saya lakukan...
1. Waktu jaman-jaman masih muda, kan sempet tuh KP (padahal gak nyampe setaun yang lalu). Nah, terus tuh si Antok (bukan nama samaran) minta dikirimin suatu file (berkas) (saya juga lupa filenya apa). Terus karena saya berprinsip "di dunia gak ada yang gratis, mau masuk WC aja bayar", maka saya berniat mem-password (sandi) berkas tersebut. Kemudian, saya tidak mau si Antok bisa meng-copy paste passwordnya, alhasil dengan segala niat saya membuat berkas .jpg (JPEG) untuk menuliskan sandi dari berkas tersebut. Setelah itu berkas sandi tersebut saya satukan bersama dengan berkas yang diminta oleh Antok, kemudian saya buat menjadi archive (arsip) menggunakan Win***, dan saya sandikan arsip tersebut, tentunya dengan sandi yang tadi saya tuliskan di dalam berkas sandi (yang .jpg itu loh).

Sudah terlihatkah kebodohannya? Masih belum? Oke... Kita lanjutkan saja ceritanya...

Keesokan harinya, Antok mengirim pesan singkat (mengirimkan sms) ke saya... Dia bertanya kurang lebih begini, "Zak, password buat extract-nya apaan?" Tentunya saya dengan gaya yang pongah menjawab "Loh, kan ada di file .jpg-nya", dia pun membalas lagi "Loh, file itunya juga kan di dalem archive, gimana bisa liat. Yaudah sekarang smsin aja passwordnya". Saya pun terdiam... tak kulakukan... Apa yang tak kulakukan? Tentunya saya hanya bisa mengirimkan pesan singkat ini ke Antok "Sori Tok, saya juga dah lupa apa passwordnya, saya kirim ulang deh filenya, tanpa password!".

2. Kemaren, waktu bantu2in si Upik (lagi2, bukan nama samaran) yang sedang meng-install ulang komputernya yang katanya sih sering BSOD (bukan Bumi Serpong Of Damai). Terus dia minta kirimin ***RaR (sama ama yang di nomer 1), dan setelah cari sana cari sini, saya kirimkanlah berkas-berkas yang dibutuhkan ke si Upik. Karena berkasnya ada beberapa, ya saya arsipkan biar lebih gampang...

Sekarang, jelas terlihat dong kebodohannya? Masih aja belum? Pasti logikanya sedikit nih... Oke lanjut aja...

Terus setelah berkasnya terkirim, si Upik nanya (via YM), "Zak, ama si Yaho* kedetect ada virus nih, pasti gara2 ada .exe nih", saya pun bales, "waduh gimana ya, bingung juga" (dan dalam hati masih yang terpikir adalah, kayanya kirim ulang aja, terus si .exe-nya ganti aja jadi .txt, kan gak kedetect virus tuh.. gapapa kayanya ngirim agak lama lagi, yang penting si Upik dapet)... Tak lama berselang (halah bahasanya), si Upik nanya lagi, "Zak, kok file-nya .rar sih, aku bukanya pake apa?"... Ku terdiam... tak kulakukan... Kali ini pun, sekali lagi hanya bisa berkata "saya kirim ulang deh", dia pun membalas "jangan di-rar ya"...

Sudah cukup bodohkah saya? Masih belum? Oke, ini yang terakhir, tapi yang terakhir ini kebodohan rutin yang saya lakukan...

Kalo ada orang minta berkas dalam jumlah yang banyak dan ia memberikan Flash Disk-nya (FD) ke saya untuk minta dikopikan, kemudian berkas-berkas tersebut belum terbungkus dalam satu tempat (di satu direktori misalnya), biasanya saya buat direktori dulu di komputer saya, buat menyimpan berkas-berkas tersebut... Dan biasanya setelah berkas-berkas tersebut terkumpul, saya langsung menekan icon "Remove Hardware" yang ada di kanan bawah...

Udah tau kan bodohnya dimana? Kalo masih gatau, pasti kamu gak masuk 10 besar diantara temen2mu di Who Has The Biggest Brain ya?

Jelas kan kebodohannya? Saya langsung me-remove itu hardware sebelum mengkopikan berkas-berkas tersebut! Jadilah pada saat saya mengembalikan FD ke sang pemiliknya, dia biasanya bertanya, "loh, filenya dimana Zak?", dan biasanya dengan cukup cepat saya balas "lah kan ada tuh folder blablabla", dan pasti langsung ditimpali "gak ada tuh Zak"... Setelah cek sana cek sini, akhirnya berkesimpulan, berkas-berkasnya belum dikopikan... Dasar bodoh...

[OOT mode]
Masih berkaitan dengan kebo... Pertanyaannya adalah: Kebo apa yang bosan dan gak berat? Penjawab benar pertama (selain orang-orang yang main kartu bareng yang udah tau waktu itu) ditraktir makan apapun dimanapun* :D

*Syarat dan ketentuan berlaku (akan di-publish kemudian)
[/OOT mode]

3.3.08

Sebuah Pemikiran... (lagi... dan lagi...)

Menurut Anda, pengemis mana yang perlu lebih dikasihani?

1. Pengemis yang kotak uangnya kosong
2. Pengemis yang kotak uangnya berisi beberapa uang receh (kurang dari 10)

Entah kenapa, dengan pemikiran yang nerd ini, saya lebih mengasihani yang nomor 2... Pemikiran nerd-nya cukup sederhana, hati kecil ini bicara, "ah kalo kotaknya kosong sih, pasti kalo dikasi uang langsung ditaro di saku/tas/tempat yang lain, kalo kotaknya ada isinya beberapa, kasian juga yang ngasi baru dikit"

Bagaimana pendapat teman-teman / rekan-rekan semua?

15.2.08

Sulit...

Inggriani Liem, atau akrab dipanggil dengan Bu Inge, begitulah ia biasa disapa.

Dosen yang satu ini, dosen yang sangat luar biasa, mungkin di sebagian anak IF (terutama yang pernah diajarnya), ia udah dianggap "dewa", apapun yang ia katakan selalu benar...

"Jadilah orang waras di dunia yang gila ini." Begitulah kata-katanya yang terlontar ketika seseorang tidak memrogram dengan baik, dan pasti terngiang di sebagian besar telinga kami. Bukan hanya dalam pemrograman, dalam segala bidang kehidupan, ia telah membuat anak IF menjadi lebih taat-asas.

Apa yang dikatakannya ternyata tidak salah. Dunia memang telah gila. Orang antri dibilang nerd, orang ngobrol dibilang autis...

Bu Inge, dosen yang kami hormati itu, ternyata bukan dewa, ia juga bisa salah... Mas-mas itu emang gak ganteng...Hwahahaha

1.2.08

Dua buah pemikiran...

Meneruskan jejak Sebuah pemikiran, saya buat dua buah pemikiran kali ini...

Waktu SMA (apa SMP ya? Lupa lah), di akhir-akhir semester pernah ada guru yang memasang pengumuman (kurang lebih) seperti ini...
Bag siswa yang mendapat nilai akhir Biologi 4 atau 5, diperbolehkan mengikuti ujian perbaikan dengan ketentuan nilai akhir sebagai berikut:
Untuk yang mendapat nilai 4, jika nilainya diatas 7.5, maka nilai akhirnya adalah 6, dan jika nilainya diatas 8.5, maka nilai akhirnya adalah 7
Untuk yang mendapat nilai 5, jika nilainya diatas 8, maka nilai akhirnya adalah 6, dan jika nilainya diatas 9, maka nilai akhirnya adalah 7
Dua hal yang membuat saya bingung:
1. Kenapa untuk yang nilainya 4 justru butuh usaha lebih kecil untuk memperoleh nilai tertentu dibandingkan untuk yang nilainya sudah 5? Apakah guru tersebut berpendapat "kan yang 4 untuk dapet 7.5 aja mungkin masih lebih susah daripada yang nilainya 5 untuk memperoleh nilai 8". Kalo iya, cara berpikir yang aneh, dan BURUK pastinya. Harusnya kalo mau lebih adil kan ya nilainya pake persentase nilai sebelum ujian perbaikan dan nilai ujian perbaikannya itu sendiri, jadi bukan berdasarkan pemikiran kaya gitu...

2. Kenapa yang nilainya 6 tidak diperbolehkan mengikuti ujian tersebut?? Sangat tidak adil jika yang mendapat nilai 4 atau 5 dapat memperoleh nilai 7, sedangkan yang sudah memperoleh nilai 6 tidak dapat memperoleh hal yang serupa... Kalo gitu sih, mendingan dapet nilai 4 atau 5 daripada 6, soalnya nantinya nilainya bisa 7...

Intinya, guru tersebut (dalam hal pemikiran, untuk pemberian ujian perbaikan) adalah guru yang BODOH... Dan adakah dosen yang seperti guru tersebut? Semoga saja tidak ada...

NB: Kalo yang nilainya 3, 2, ama 1 jelas gak dibahas disini... Soalnya emang gak ada yang nilainya segitu, jadi dalam hal ini, hal tersebut wajar..