2.3.14

Remote Working, How?

Udah hampir setahun nggak nge-blog... Terakhir nge-blog saya baru gabung dengan perusahaan startup-nya temen-temen angkatan saya sendiri, who are Zaky, Fajrin, dan Nugroho. Setahun di sini, banyak hal yang saya pelajari, banyak hal yang harus saya akui saya tertinggal.

Belum terlalu lama yang lalu, saya membaca buku berjudul Remote. Pengarangnya adalah pendiri Basecamp yang mungkin sudah sangat terkenal. Selain buku itu, ia juga mengarang buku lainnya berjudul Rework, kedua buku itu sangat bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

Oke, kembali ke buku Remote ini. Poin-poin yang menarik dari buku tersebut yang saya garisbawahi adalah:

  • Konsep remote yang pernah saya pahami itu salah besar. Remote tidak berarti harus bekerja dari rumah, remote bisa juga dilakukan di kafe, di taman, di perpustakaan atau di manapun yang kita mau. Satu hal yang pasti, bedakan suasana saat sedang kerja remote dengan saat bersantai di rumah. Jangan pernah kerja remote di kasur, di depan TV, ataupun di dapur. Bahkan bukan tidak mungkin remote dilakukan di rumah, tapi dengan menggunakan pakaian yang rapi, jas, dan bersepatu.
  • Permasalahan utama pekerja remote bukanlah underwork, tapi justru overwork. Ini yang selama ini sering ditakutkan manajer atau bos di perusahaan. Mereka tidak percaya pada karyawan atau bawahannya. Lucunya, kalau dari awal tidak percaya, kenapa mereka harus direkrut?
  • Kerja remote justru memperlihatkan siapa yang kerja dengan benar dan siapa yang tidak. Kerja di kantor (on-site) justru bisa dibilang lebih "aman". Datang tepat waktu, pulang tepat waktu, berlaku baik bagi sesama, bersosialisasi sewajarnya, maka bisa dibilang posisi kita cukup aman. Kerja remote benar-benar mengubah konsep kerja seperti itu. Orang yang kerja bagus dan tidak akan lebih mudah terlihat dengan kerja remote itu.
  • Kerja remote harus diberikan kepada seluruh karyawan (yang mungkin melakukan kerja remote). Jangan hanya berikan privilege tersebut kepada, katakanlah, karyawan senior, manajer, atau orang-orang tertentu. Karena sikap setengah-setengah seperti ini justru merupakan blunder yang luar biasa.
So, untuk para pemilik perusahaan di luar sana, beranikah Anda memperkerjakan karyawan Anda secare remote (full-time)?

2 comments:

  1. Ada penjelasan soal bagaimana kolaborasi dalam satu tim kalau orang-orangnya kerja remote? Kalau dalam kasus software development, bagaimana caranya melakukan pair programming (misalnya)?

    ReplyDelete
  2. Saya pernah merasakan kerja remote tsb, namun bukan full kerja remote, namun tetap kerja di kantor, namun diberikan akses untuk masuk ke jaringan internal perusahaan dari luar kantor. Alhasil, saat sudah pulang kantor, santai di rumah, ada bbrp hal yg harus diselesaikan cepat, akhirnya nge-remote pekerjaan dari rumah.
    Jadinya jam kerjanya secara tidak sadar bertambah.

    Kalau dihitung sebagai overtime, mungkin akan lebih baik, karena bukankah pada dasarkan karyawan kerjanya "lembur" meski tidak dari kantor?
    Tentu hal2 seperti ini yg perlu dianalisa dan disiapkan oleh perusahaan yg memberikan karyawannya "akses" ke dalam jaringan perusahaan dari luar kantor.

    ReplyDelete