7.7.10

Common Indonesian English...

...mistake

Yeap, saya tidak berencana untuk mempublikasikan Kamus Indonesia-Inggris disini, juga bukan memberitahukan kepada dunia bahwa sekarang selain American, British, dan Australian, ternyata ada juga Indonesian English, tapi postingan ini sedikit memberikan tentang penggunaan bahasa Inggris oleh orang Indonesia yang agak-agak ngaco dikit...

1. "Mister!!"
Entah karena bangsa kita ini terlalu bangga kalo didatengin orang asing atau bagaimana, jika ada bule (cowo), sering ada yang manggil dengan sebutan ini, padahal jelas-jelas salah. Sebutan "Mister" harus diikuti dengan nama orang tersebut, dan gunakan "Sir" jika kita gatau namanya, bahkan menyebut "hey, you!" tampaknya masih lebih berterima di mata mereka.
Kesalahan ini disebabkan dalam bahasa Indonesia, kita sering memanggil (orang yang lebih tua) dengan sebutan "Pak", yang dalam bahasa Inggris jadi "Mr." ini... Kesalahan ini umumnya sering dilakukan oleh orang-orang yang (maaf) tingkat pendidikannya rendah atau sedang dalam masa pembelajaran bahasa Inggris (terus biar gaya, dipakelah bahasa Inggris saat ketemu bule)

2. German.
Tidak ada yang salah dengan "German" sebenernya, karena memang ada artinya. Yang salah adalah penggunaannya. Kesalahan paling umum, biasanya terasa saat percakapan, seperti, "which team will win today, Spain or German?", meskipun orang yang mendengar mengerti maksudnya, tapi tetep aja salah, karena harusnya dalam konteks ini yang bener adalah "Germany".
Kesalahan ini, jelas sekali, disebabkan karena dalam bahasa Indonesia, negaranya adalah Jerman, jadi serasa ribet nambahin -y dibelakangnya, kurang efektif dan makan waktu.

3. Boring.
Sama seperti German, "boring" ini juga bermakna, hanya maknanya sering salah arti. Seringkali kita mendengar (atau membaca) orang Indonesia bilang "I am so boring", "gw boring". Entah mereka ini benar-benar merendah(kan diri) atau bagaimana, tapi jelas, jika dia ingin memaksudkan "saya bosan" harusnya dia bilang "I am bored".
Kesalahan ini, terjadi umumnya karena sewaktu kita kecil, kita diajarkan bahwa -ing adalah bentuk aktif, dan -ed adalah bentuk pasif (atau past tense). Sehingga "boring" pun menjadi kata aktif yang berarti saya sedang bosan (atau semacamnya). Umumnya dilakukan oleh anak-anak muda yang masih dalam tahap pembelajaran bahasa Inggris, tapi belum mendapat pembelajaran secara kaffah :D

Okeey... That's all for today, c ya!

27.6.10

Kembali nge-blog

Halo, saya kembali lagi ngeblog loh, setelah 6 bulan pasif, gara2 komen di haloscan ilang, dan saya gamau banget buang2 duit cuma buat dapetin isi komen2 tersebut...

Anyway sekarang blog saya tampilannya lebih bagus. Itu aja deh... Semoga saya bisa istiqamah blogging... Halah

11.12.09

Hidup di Portugal (Part II)

Postingan ini adalah edisi kedua dari cerita kehidupan (saya) di Portugal... Edisi sebelumnya bisa dilihat di sini...

Komunikasi

Mau tidak mau, suka tidak suka, harus diakui ini adalah salah satu masalah terbesar kehidupan di luar negeri, terutama jika kita tidak menguasai bahasa penduduknya, ditambah lagi dengan kondisi bahwa sebagian besar penduduknya tidak menguasai bahasa Inggris. Awalnya semangat saya untuk mencoba belajar bahasa portugis cukup tinggi, supaya setidaknya bisa berkomunikasi dengan cukup lancar, dengan mengikuti kursus (yang bisa dianggap kuliah juga, soalnya ada kredit kuliahnya juga) di Lisbon sana. Waktu demi waktu berlalu, semangat itu hanya tinggal semangat, dua alasan yang cukup kuat membuat saya agak malas-malasan untuk "berkuliah" itu lagi.

Pertama, kenyataan bahwa pengajar kuliah itu luar biasa ngebutnya dalam mengajar. Luar biasa cepatnya. Dan yang kedua, setelah tahu bahwa kredit kuliah bahasa ini tidak bisa dimasukkan ke daftar nilai akhir (ngejar ilmu apa ngejar kuliah Zak? :P). Ditambah dengan keadaan bahwa obrolan saya dengan teman-teman satu jurusan dan kuliah dilaksanakan (kaya upacara aja) dalam bahasa Inggris, membuat kosakata bahasa portugis saya gak banyak berkembang. Paling ujung-ujungnya cuma bisa nao falo portugues, bom dia, boa tarde, boa noite, obrigado, desculpe, por favor, todo bem, como estas? Pokoknya bener-bener frase-frase dasar sehari-hari :D Untungnya, penduduk Portugal adalah penduduk yang ramah (katanya, tidak seperti penduduk spanyol, prancis, ato jerman yang agak anti dengan bahasa Inggris), sangat mau membantu meski pakai bahasa tarzan. Bener-bener saya ketolong dengan kemampuan bahasa portugis mendekati 0 dari kanan ini, padahal oleh orang-orang yang notabene tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.

Komunitas Indonesia

Jika ini adalah salah satu concern Anda dalam menentukan pilihan tujuan negara untuk berkuliah (atau untuk keperluan lainnya), maka buang jauh-jauh kata Portugal dari kamus Anda. Biarkan kamusnya agak gak lengkap sedikit, lagipula setau saya sih yaa, di kamus itu gak ada deh nama negara, paling kalo mau cari di kamus pintar ato RPUL.

Intinya, jika tujuan utama kuliah ke luar negeri adalah untuk bertemu orang Indonesia, maka jangan pilih Portugal. Malah kalo emang tujuan utamanya adalah untuk bertemu orang Indonesia, menurut saya yang terbaik adalah tetap di Indonesia. Hehehe. Maksud saya, jika kita bandingkan jumlah orang Indonesia di Portugal dan negara-negara Eropa bagian barat lainnya, seperti Jerman, Belanda, Italia, Spanyol, Inggris, and so on, kan kaudapati seikat kembang merah bahwa Portugal bukan negara yang populer dalam hal studi, karena memang bukan tempat tujuan belajar utama, alias tidak ada universitas Portugal yang namanya menjulang di kancah peruniversitasan dunia. Sebagai perbandingan ringan, menurut data KBRI, diperkirakan terdapat sekitar 70-80 WNI (jumlahnya tidak pasti karena ada WNI yang berpindah-pindah negara setiap satuan waktu) di Portugal, dan menurut data dari seseorang yang tinggal di salah satu kota di Belanda, 80 orang adalah jumlah yang bisa dicapai dalam satu pertemuan rutin di kota itu saja.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh putusnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Portugal akibat Timor Timur, dan hubungan keduanya baru mulai terjalin lagi sejak 2001. Yah, itu aja sih (kesimpulan yang kurang menarik).


Sekian saja edisi kedua saya dalam serial kehidupan di Portugal, nantikan kisah-kisah kehidupan ini selanjutnya, masih di blog yang sama. Blog saya.

25.11.09

Hidup di Portugal (Part I)

Mulai edisi ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai kehidupan di Portugal, mungkin bisa dijadikan rujukan (ngarep bener) bagi mereka-mereka, tidak hanya yang berkuliah, tapi juga yang akan tinggal di Portugal.

Tempat Tinggal

Sebelum banyak berkoar tentang kehidupan yang lain-lain, saya akan sedikit bercerita mengenai kehidupan berasmara berasrama saya disini. Saya cukup beruntung menyadari bahwa saya mendapat asrama disini, lokasi sangat dekat dengan kampus (sekitar 10 menit jalan kaki), tempatnya cukup asri, kamarnya juga sudah cukup ukurannya (3x5 meter), dilengkapi dengan kamar mandi, dan biayanya juga tidak terlampau mahal, hanya 210 euro... Never ever convert this to rupiah.

Dengan biaya segitu saja, saya sudah mendapat fasilitas all-in, seperti listrik, gas dan air. Tentunya cocok bagi orang yang boros, yang lampunya jarang dimatiin, yang laptopnya dinyalain 24 jam, yang mandi sejam, yang doyan masak, atau yang nyalain pemanas kekuatan tinggi bukan untuk dimanfaatkan menghangatkan badan, tapi untuk mengeringkan pakaian yang basah (pengalaman pribadi), selain itu di asrama ini juga sudah disediakan internet gratis (hotspot), hanya sayangnya apa-apa diblok... Kenikmatan-kenikmatan internet seperti filesharing (rapidshare, megaupload, 4shared), torrent, streaming (nonton sepakbola live, misalnya), video sharing (youtube, footytube), file-file berbau aplikasi java (Yahoo Games), dan tentunya file-file berbau proxy, bahkan yang terakhir ini agak konyol karena google translate juga diblok (emang sih google translate bisa jadi proxy), tapi akhirnya dibuka setelah saya kirim komplain ke adminnya, bilang kalo saya gak bisa hidup di Portugal ini tanpa translator, dan akhirnya dibukakan.

Keuntungan lainnya adalah keamanan, berhubung ini asrama, jadi ya dijaga ama security gitu, selain itu saya tidak perlu repot mengganti seprai, selimut, sarung bantal pula, karena tiap pekan, pada hari rabu, kita boleh menukarnya dengan yang bersih, jadi gak repot mau nyuci-nyuci segala, tapi khusus untuk itu aja ya, soalnya untuk pakaian ya tetep harus nyuci sendiri.

Enaknya lagi, berhubung penduduk asramanya multi nasional (sebagian besar sih berbahasa portugis atau spanyol), jadi ya lumayan lah, bahasa Inggris dipakai juga di asrama ini, meski tidak banyak juga yang menggunakannya. Umumnya pengguna bahasa inggris di sini adalah orang-orang India, Cina, Turki, atau penduduk Eropa pusat (Jerman, Italia) atau timur (Rumania, Slovakia).

Tentunya disamping enaknya itu, ada juga gak enaknya... Misalnya dapur yang tersedia cukup terbatas... Satu dapur untuk sekitar 20 penghuni, saya sendiri cukup beruntung berada di lantai yang isinya laki-laki semua, yang notabene jarang yang suka masak, jadi ya jarang rebutan menggunakan dapur, palingan nunggu satu orang aja, dan kalo sudah tau waktu makan orang-orang Portugal pada umumnya, bisa kok selalu pas pengen masak (gak pengen masak sih, pengen makan sebenernya), pas dapur lagi kosong.

Nah satu lagi gak enaknya adalah, meski harganya tergolong murah (apalagi kalo dibanding harga di eropa bagian lain), tapi harga sewa asramanya masih kurang murah. Di dekat-dekat asrama ini masih ada kosan seharga 140an euro, meski belum all-in sih (tapi setelah all-in, palingan kenanya juga 170 euro). Tapi dengan bermodalkan alasan malas kalo pindahan segala, akhirnya saya memutuskan tetap berdiam di dalam asrama ini saja.....

Makanan

Oke, ini "masalah" orang Indonesia (kalo untuk orang Indonesia sih sebenernya gak begitu masalah) atau lebih tepatnya dibilang masalah bagi yang beragama Islam. Dua paragraf dibawah ini sepertinya khusus bagi yang beragama Islam atau tidak masalah membaca artikel yang agak-agak berbau islam.

Tidak seperti di negara Belanda, Prancis atau Jerman, yang penduduk Islamnya menurut situs ini sekitar 5-10% penduduknya (di Belanda sendiri, setahu saya ada sekitar satu juta penduduk muslim), di Portugal jumlah muslim hanya sekitar 0.1% penduduk. Jelas bukan jumlah yang signifikan. Ini sangat mempersulit, setidaknya bagi saya, untuk menemukan makanan yang halal, terutama daging-dagingan (ayam, sapi, atau kambing). Masalahnya bukan pada jenis dagingnya (babi jelas dilarang), tapi pada cara penyembelihannya. Karena penyembelihan yang tidak sesuai kaidah Al-Qur'an (leher tidak boleh putus, menyembelih atas nama Allah, dll) juga termasuk daging yang haram, dan dengan kondisi 99.9% penduduk sini tidak beragama Islam, mereka tidak tahu halal itu apa dan bagaimana. Sebagian orang Indonesia disini sih memilih, "yaudah bismillah aja", yang tentunya tidak semudah itu saya ikuti. Karena toh saya gak mati, gak pingsan, gak menderita kalo gak makan daging, kenapa harus repot makan daging juga.

Hal ini pernah menjadi bahan diskusi saya dengan seorang rekan saya. Dia menanyakan, apa kalo di negara yang mayoritas muslim, dagingnya pasti halal atau tidak, dan tentu saja saya katakan tidak. Akhirnya dia bertanya lagi, apa saya jika makan di warteg, warung pecel, atau semacamnya di Indonesia, pernah bertanya tentang kehalalan dagingnya. Saya sedikit tertohok, tapi akhirnya saya menemukan jawaban yang cukup masuk akal, yaitu ayat yang menyatakan bahwa apa yang meragukan itu sebaiknya ditinggalkan. Saya jelas ragu apa daging yang ada di Portugal ini halal atau tidak (malah bisa dibilang, saya cukup optimis bahwa daging-daging tersebut haram), dan saya tidak ragu mengenai hal tersebut yang ada di Indonesia, penjelasan yang cukup logis kan?

Seperti kata Bu Inge, hidup itu Yin dan Yang, ada gak enak pasti ada enaknya juga, begitupun disini. Lokasi yang dekat dengan kampus membuat saya bisa makan di kantin kampus (tentunya saya selalu mengambil menu ikan), harganya murah (hanya 2.15 euro), dan kuantitasnya banyak sekali (roti, sup, jus jeruk/susu, main course (daging/ikan/vegetarian), salad, dessert), dan menyediakan makanan untuk makan siang maupun makan malam. Biasanya saya membungkus roti dan susunya, lumayan menambah perbekalan di rumah :D


Kelanjutan cerita tentang sisi kehidupan lain di Portugal akan saya sampaikan lain waktu... Bye...

9.11.09

Senangnya menjadi anak IF :D

Betapa bahagianya hidup saya di IF ini... Percakapan berikut ini menjadi bukti betapa menyenangkannya punya teman-teman yang "gila", seperti saya ini :D

(1:30:37 PM) myself: jeleger!
(1:39:56 PM) olip: howaahhh
(1:40:00 PM) olip: kamar saya berantakan
(1:40:01 PM) olip: ada apa ini?
(1:40:10 PM) myself: hahh?? seriusan?
(1:40:13 PM) myself: ada yang masuk????
(1:40:22 PM) olip: tadi saya mendengar bunyi ledakan
(1:40:32 PM) olip: lalu saya berlari kembali ke kamar untuk melihat keadaan
(1:40:37 PM) olip: ternyata kamar saya jadi hancur
(1:40:39 PM) myself: ledakan????
(1:40:44 PM) olip: harus ada yg bertanggung jawab iniii
(1:40:49 PM) myself: ledakan apaan???
(1:41:05 PM) olip: entah
(1:41:10 PM) olip: bunyinya JELEGER gitu
(1:41:47 PM) myself: hahh... baru banget jadi berantakannya??
(1:41:54 PM) olip: kayaknya begitu
(1:42:02 PM) olip: begitu bunyi ledakan saya lari tadi
(1:42:03 PM) olip: dari kopo
(1:42:43 PM) myself: dari kopo???
(1:42:53 PM) olip: iya
(1:43:04 PM) myself: gak ngerti saya, kamu dari kopo lari ke kosan?
(1:43:55 PM) myself: gimana sih maksudnya, beneran gak ngerti nih :(
(1:44:06 PM) olip: kan lagi ktt
(1:45:06 PM) myself: jadi, kamu dari mana???
(1:45:23 PM) myself: oooooooooooooooooooooooooooooh
(1:45:28 PM) myself: jeleger tuh dari sayanya ya?? :))
(1:45:32 PM) myself: baru nyadar!!! :))
(1:49:46 PM) olip: ....
(1:49:51 PM) olip: kirain dah nyadar dari tadi
(1:49:57 PM) myself: hwahahahaha :))
(1:50:01 PM) olip: jengjenggg
(1:50:05 PM) myself: menarik nih dimasukin di blog :P
(1:50:17 PM) olip: butuh berapa lama om?
(1:50:30 PM) myself: hampir 3 menit
(1:51:27 PM) olip: ;))
(1:51:34 PM) olip: lupa klo nulis jeleger ya
(1:52:02 PM) myself: iyah :))
(1:52:12 PM) myself: abisnya udah jauh terlupakan :P
(1:52:26 PM) olip: ;)) kompie ditinggal nonton opeje seh tadi
(1:52:32 PM) myself: opeje
(1:52:39 PM) myself: oyaya
(1:52:49 PM) myself: udah "punya" tipi ya sekarang
(1:54:12 PM) olip: ;))